“Efek ke biaya logistik industri plastik juga makin berat dan akan diteruskan ke konsumen,” ucapnya.
Bhima menilai kondisi ini dapat merugikan pelaku UMKM, terutama menjelang momen Lebaran yang biasanya menjadi periode peningkatan penjualan produk makanan dan minuman.
Kenaikan harga plastik sebagai bahan kemasan berpotensi menambah biaya produksi dan pada akhirnya menggerus margin keuntungan pelaku usaha kecil.
Baca Juga: Polisi Bongkar Peredaran Obat Psikotropika Berkedok Toko Plastik di Jagakarsa
Padahal, periode Hari Raya seharusnya menjadi kesempatan bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan omzet penjualan.
“Momen Lebaran seharusnya pengusaha UMKM mendapatkan omzet yang tinggi, tapi karena harga plastik naik untuk kemasan makanan dan minuman akan menggerus omzet,” katanya.
Pemerintah Diminta Cari Sumber Bahan Baku Alternatif
Untuk meminimalkan dampak yang lebih luas, Bhima mendorong pemerintah segera mengambil langkah strategis. Salah satu langkah yang dinilai penting adalah mencari alternatif sumber bahan baku plastik dari negara selain kawasan Timur Tengah.
Koordinasi antara pemerintah dan industri plastik dinilai diperlukan untuk memastikan ketersediaan pasokan bahan baku tetap terjaga.
Baca Juga: Soal Kemasan MBG Pakai Plastik Kresek, Wabup Pandeglang Ancam Tutup SPPG Nakal
“Pemerintah sebaiknya melakukan koordinasi dengan perusahaan plastik untuk mencari bahan baku alternatif dari negara selain Timur Tengah,” ucap Bhima.
Selain itu, ia juga mengusulkan pemberian stimulus bagi pelaku UMKM agar mampu menghadapi kenaikan biaya produksi. Bentuk stimulus yang diusulkan antara lain bantuan subsidi upah bagi pelaku usaha kecil.
“Bagi konsumen UMKM harus ada stimulus berupa bantuan subsidi upah Rp3,5 juta per bulan agar tidak kaget ketika harga makanan dan minuman naik,” ujarnya.
