JAKARTA, POSKOTA.CO.ID – Masjid Lautze di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat, bukan sekadar tempat ibadah bagi umat Muslim. Masjid dengan arsitektur khas Tionghoa ini juga menjadi saksi perjalanan spiritual puluhan warga Tiongkok yang menemukan Islam di Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, Masjid Lautze kerap menjadi tempat proses pensyahadatan warga Tiongkok yang ingin memeluk Islam. Proses tersebut banyak dipandu langsung oleh Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Lautze, Ustaz Hans Ahmad Yamin.
Ustaz Hans mengungkapkan bahwa sejak dirinya mulai berkhidmat sebagai Ketua DKM pada 2024, puluhan warga Tiongkok telah ia dampingi langsung untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.
“Alhamdulillah semenjak saya berkhidmat di sini sebagai ketua DKM, yang syahadat dari Tiongkok itu sudah lebih dari lima puluhan orang. Itu yang saya bantu langsung proses syahadatnya. Kalau data sebelumnya sudah ratusan,” ujar Hans kepada Poskota, Sabtu, 7 Maret 2026.
Baca Juga: Steven Wongso Resmi Mualaf di Bulan Ramadhan, Ucap Syahadat Dibimbing Ustadz Felix Siauw
Jika dihitung secara keseluruhan, termasuk mualaf dari negara lain seperti Jepang dan Korea yang berada di Jakarta, jumlah orang yang ia pandu untuk bersyahadat hampir mencapai 100 orang.
Menurut Hans, sebagian besar calon mualaf berasal dari Tiongkok yang datang ke Indonesia untuk berbagai keperluan, mulai dari bisnis hingga pendidikan.
Tantangan Bahasa dalam Proses Dakwah
Salah satu tantangan utama dalam proses pensyahadatan adalah kendala bahasa. Banyak calon mualaf dari Tiongkok yang tidak memahami bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.
Karena itu, proses pendampingan sering dilakukan menggunakan bahasa Mandarin agar pesan tentang ajaran Islam dapat dipahami dengan baik.
Baca Juga: Bobon Santoso Resmi Mualaf, Ucap Syahadat Dibimbing Ustadz Derry Sulaiman
Hans menjelaskan bahwa calon mualaf biasanya perlu memahami terlebih dahulu konsep dasar Islam seperti rukun iman, rukun Islam, hingga praktik ibadah sebelum mengambil keputusan untuk bersyahadat.
Namun di masa lalu, keterbatasan penerjemah menjadi kendala tersendiri.
“Nah masalahnya kalau penerjemahnya non-muslim, bagaimana dia menjelaskan zakat, haji, atau mandi junub. Kadang mereka sendiri tidak paham,” kata Hans.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kehadiran Muslim yang menguasai bahasa asing agar dakwah kepada masyarakat internasional bisa berjalan lebih efektif.
Baca Juga: Momentum Ramadhan, Ustaz Derry Sulaiman Bimbing dr Richard Lee Masuk Islam Bacakan Syahadat
Mahasiswa Bahasa Mandarin Dinilai Punya Potensi Dakwah
Hans juga menyoroti fenomena mahasiswa Muslim yang mempelajari bahasa Mandarin di berbagai perguruan tinggi. Menurutnya, banyak dari mereka mempelajari bahasa tersebut untuk kepentingan karier, namun belum memanfaatkan kemampuan itu untuk dakwah.
Ia menilai penguasaan bahasa asing, khususnya Mandarin, sebenarnya bisa menjadi jembatan untuk mengenalkan Islam kepada masyarakat internasional.
“Saya sering bertemu mahasiswa fakultas Mandarin. Saya tanya sederhana saja, ‘mandi wajib’ dalam bahasa Mandarin apa? Banyak yang tidak bisa jawab,” ujarnya.
Padahal, menurut Hans, jika niatnya sedikit diarahkan untuk dakwah, kemampuan bahasa tersebut dapat menjadi sarana membantu orang lain memahami Islam.
Baca Juga: Momen Denny Sumargo Ucap Kalimat Syahadat Dibimbing oleh Dery Kasisolusi: Gue Merinding
Perjalanan Spiritual Ustaz Hans
Keterlibatan Hans dalam mendampingi para mualaf Tiongkok juga bermula dari perjalanan spiritual pribadinya.
Ia mengaku sempat mempertanyakan takdirnya dilahirkan sebagai keturunan Tionghoa di Indonesia. Namun seiring waktu, ia menyadari bahwa kemampuan bahasa Mandarin yang dimilikinya menjadi jalan untuk berdakwah.
“Bumi Allah seluas ini, kenapa saya harus lahir sebagai orang Tionghoa di Indonesia? Ternyata jawabannya datang sedikit demi sedikit,” kata Hans.
Kesadaran tersebut semakin kuat ketika suatu hari ia diminta membantu seorang warga Tiongkok yang ingin memeluk Islam namun tidak bisa berbahasa Indonesia maupun Inggris.
Baca Juga: Polemik Syahadat Wanita Gugur Bila Tak Berhijab, Denny Siregar Nggak Mau Ribet Tinggal Syahadat Lagi
“Beliau bilang, ‘Hans, ada calon mualaf dari Tiongkok, tidak bisa bahasa Indonesia dan Inggris, bisanya bahasa Cina. Antum bantu ya.’ Di situ saya merinding. Saya merasa ini jawaban dari pertanyaan hidup saya,” ujarnya.
Sejak saat itu, ia semakin aktif mendampingi proses pensyahadatan di Masjid Lautze.
Proses Pembinaan setelah Bersyahadat
Hans menegaskan bahwa setiap calon mualaf tidak langsung diajak bersyahadat begitu saja. Mereka biasanya terlebih dahulu diajak berdiskusi mengenai konsep dasar Islam agar keputusan yang diambil benar-benar lahir dari keyakinan.
“Kami jelaskan dulu Islam itu seperti apa, rukun iman, rukun Islam, kenapa salat lima waktu,” katanya.
Menariknya, beberapa mualaf bahkan memilih tinggal berjam-jam di masjid setelah mengucapkan syahadat untuk mempelajari Islam lebih dalam.
“Ada yang datang syahadatnya setelah Zuhur, tapi dia tinggal di masjid sampai setelah Isya karena ingin tahu lebih banyak. Bahkan besoknya datang lagi,” ujar Hans.
Selain membimbing para mualaf, Hans juga berusaha mempertemukan mereka dengan komunitas Muslim asal Tiongkok yang telah lebih dahulu tinggal di Indonesia.
Sebagian di antaranya berasal dari etnis Muslim seperti Uyghur, Hui, Salar, hingga Bao’an.
Pertemuan tersebut biasanya dilakukan secara santai, seperti makan bersama atau minum kopi, namun sering berkembang menjadi diskusi panjang mengenai agama, kehidupan, hingga peluang usaha halal.
“Kami ajak mereka makan atau ngopi supaya para mualaf ini punya teman yang bahasanya sama. Dari situ mereka belajar Islam dengan lebih nyaman,” katanya.
Menurut Hans, pertemuan tersebut juga kerap memunculkan ide baru, termasuk peluang usaha halal bagi para mualaf yang sebelumnya bekerja di sektor yang tidak sesuai syariat.
Membuka Pintu Dakwah untuk Semua
Hans menegaskan bahwa tugas utama pengurus masjid adalah membuka pintu seluas-luasnya bagi siapa pun yang ingin mengenal Islam.
Ia menyadari bahwa para mualaf tersebut nantinya mungkin akan kembali ke negara asalnya. Namun yang terpenting, menurutnya, adalah menyampaikan ajaran Islam dengan benar.
“Masalah mereka istiqamah atau tidak setelah pulang ke negaranya, itu urusan Allah. Yang penting kita sudah menyampaikan dengan benar dan membantu mereka memahami Islam,” kata Hans.
Melalui aktivitas dakwah di Masjid Lautze, ia berharap semakin banyak Muslim yang memiliki kemampuan bahasa asing untuk membantu para pencari kebenaran dari berbagai negara.
“Masalahnya tinggal kita siap jemput bola atau tidak. Mereka datang dari tempat yang tidak pernah dengar azan, lalu sampai ke negeri yang lima kali sehari terdengar azan. Itu semua atas izin Allah,” ujarnya. (cr-4)
