Namun di masa lalu, keterbatasan penerjemah menjadi kendala tersendiri.
“Nah masalahnya kalau penerjemahnya non-muslim, bagaimana dia menjelaskan zakat, haji, atau mandi junub. Kadang mereka sendiri tidak paham,” kata Hans.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kehadiran Muslim yang menguasai bahasa asing agar dakwah kepada masyarakat internasional bisa berjalan lebih efektif.
Baca Juga: Momentum Ramadhan, Ustaz Derry Sulaiman Bimbing dr Richard Lee Masuk Islam Bacakan Syahadat
Mahasiswa Bahasa Mandarin Dinilai Punya Potensi Dakwah
Hans juga menyoroti fenomena mahasiswa Muslim yang mempelajari bahasa Mandarin di berbagai perguruan tinggi. Menurutnya, banyak dari mereka mempelajari bahasa tersebut untuk kepentingan karier, namun belum memanfaatkan kemampuan itu untuk dakwah.
Ia menilai penguasaan bahasa asing, khususnya Mandarin, sebenarnya bisa menjadi jembatan untuk mengenalkan Islam kepada masyarakat internasional.
“Saya sering bertemu mahasiswa fakultas Mandarin. Saya tanya sederhana saja, ‘mandi wajib’ dalam bahasa Mandarin apa? Banyak yang tidak bisa jawab,” ujarnya.
Padahal, menurut Hans, jika niatnya sedikit diarahkan untuk dakwah, kemampuan bahasa tersebut dapat menjadi sarana membantu orang lain memahami Islam.
Baca Juga: Momen Denny Sumargo Ucap Kalimat Syahadat Dibimbing oleh Dery Kasisolusi: Gue Merinding
Perjalanan Spiritual Ustaz Hans
Keterlibatan Hans dalam mendampingi para mualaf Tiongkok juga bermula dari perjalanan spiritual pribadinya.
Ia mengaku sempat mempertanyakan takdirnya dilahirkan sebagai keturunan Tionghoa di Indonesia. Namun seiring waktu, ia menyadari bahwa kemampuan bahasa Mandarin yang dimilikinya menjadi jalan untuk berdakwah.
“Bumi Allah seluas ini, kenapa saya harus lahir sebagai orang Tionghoa di Indonesia? Ternyata jawabannya datang sedikit demi sedikit,” kata Hans.
