Jembatan Hidayah di Masjid Lautze, Ustaz Hans Pandu Puluhan Warga Tiongkok Bersyahadat

Sabtu 07 Mar 2026, 22:28 WIB
Ustad Hans saat mengislamkan Huang Long di Masjid Lautze, Jakarta Pusat. (Sumber: Poskota/M. Tegar Jihad)

Ustad Hans saat mengislamkan Huang Long di Masjid Lautze, Jakarta Pusat. (Sumber: Poskota/M. Tegar Jihad)

Kesadaran tersebut semakin kuat ketika suatu hari ia diminta membantu seorang warga Tiongkok yang ingin memeluk Islam namun tidak bisa berbahasa Indonesia maupun Inggris.

Baca Juga: Polemik Syahadat Wanita Gugur Bila Tak Berhijab, Denny Siregar Nggak Mau Ribet Tinggal Syahadat Lagi

“Beliau bilang, ‘Hans, ada calon mualaf dari Tiongkok, tidak bisa bahasa Indonesia dan Inggris, bisanya bahasa Cina. Antum bantu ya.’ Di situ saya merinding. Saya merasa ini jawaban dari pertanyaan hidup saya,” ujarnya.

Sejak saat itu, ia semakin aktif mendampingi proses pensyahadatan di Masjid Lautze.

Proses Pembinaan setelah Bersyahadat

Hans menegaskan bahwa setiap calon mualaf tidak langsung diajak bersyahadat begitu saja. Mereka biasanya terlebih dahulu diajak berdiskusi mengenai konsep dasar Islam agar keputusan yang diambil benar-benar lahir dari keyakinan.

“Kami jelaskan dulu Islam itu seperti apa, rukun iman, rukun Islam, kenapa salat lima waktu,” katanya.

Menariknya, beberapa mualaf bahkan memilih tinggal berjam-jam di masjid setelah mengucapkan syahadat untuk mempelajari Islam lebih dalam.

“Ada yang datang syahadatnya setelah Zuhur, tapi dia tinggal di masjid sampai setelah Isya karena ingin tahu lebih banyak. Bahkan besoknya datang lagi,” ujar Hans.

Selain membimbing para mualaf, Hans juga berusaha mempertemukan mereka dengan komunitas Muslim asal Tiongkok yang telah lebih dahulu tinggal di Indonesia.

Sebagian di antaranya berasal dari etnis Muslim seperti Uyghur, Hui, Salar, hingga Bao’an.

Pertemuan tersebut biasanya dilakukan secara santai, seperti makan bersama atau minum kopi, namun sering berkembang menjadi diskusi panjang mengenai agama, kehidupan, hingga peluang usaha halal.

“Kami ajak mereka makan atau ngopi supaya para mualaf ini punya teman yang bahasanya sama. Dari situ mereka belajar Islam dengan lebih nyaman,” katanya.


Berita Terkait


News Update