Berbekal latar belakang sebagai anak petani, Agus mengaku tak kesulitan menekuni pekerjaan ini.
“Emang saya anak petani. Kedua juga saya hobi tanaman. Intinya kita hobi aja sama tanaman,” katanya.
Di lahan tersebut, berbagai jenis sayuran tumbuh subur, mulai dari sawi, kol, kembang kol hingga selada. Tanaman tunas seperti terong dan cabai juga ada, meski jumlahnya tidak sebanyak sayuran daun.
“Kalau di sini saya pure sayuran ya. Ada sawi, ada kembang kol, ada kol, ada selada kemarin kita habis panen. Tapi tanaman tunasnya seperti terong, cabai itu sedikit,” ujarnya.
Belakangan, kawasan itu juga mulai mengembangkan budidaya maggot sebagai bagian dari program baru pemerintah.
“Iya maggot, itu baru, itu program Pak Gubernur juga,” kata Agus.
Agus mengakui, meski terlihat hijau dan rapi, bercocok tanam di bawah kolong tol bukan tanpa tantangan. Minimnya paparan sinar matahari menjadi kendala utama.
“Namanya di kolong berarti yang pasti kurang matahari. Padahal tanaman 4 jam sampai 6 jam tuh harus kena matahari. Dia ngebakar bakteri, bakteri daun,” jelasnya.
Selain itu, perubahan cuaca dari musim panas ke musim hujan kerap memicu serangan hama.
Baca Juga: Asrinya Gang Hijau di RW 02 Pegangsaan Dua, Dari Tanaman Obat Hingga Urban Farming
“Kedua kendalanya kalau habis ketemu dari musim panas ke musim hujan seperti ini, itu hama cepat datang,” ucap dia.
