Ia mulai bertugas di lokasi itu sejak akhir 2019 hingga 2020. Saat pertama datang, kondisinya jauh dari kata layak untuk bercocok tanam.
“Oh, saya kebetulan di sini dari tahun 2020 ya. Akhir 2019 masuk ke 2020 saya ditugaskan di sini. Awalnya kebersihan, soalnya kan dulu ini bekasnya proyek Becakayu ya, berantakan yang nggak karuan lah kayak hutan,” kata Agus kepada Poskota, Selasa, 3 Maret 2026.
Agus mengaku prosesnya tidak instan. Ia harus membersihkan lahan selama berbulan-bulan sebelum bisa mulai menanam.
“Ya itu pun kita nggak langsung bisa nanam. Sebulan, dua bulan, tiga bulan lah baru bisa nanam. Itu pun nggak langsung lebar. 200 meter, 100 meter, 500 meter, ya sampai sekarang alhamdulillah sampai ke 1.500 meter persegi,” ujarnya.
Menurutnya, program urban farming di kolong tol ini mulai digencarkan saat pandemi Covid-19. Ketika itu, pemerintah mendorong penguatan ketahanan pangan di tingkat wilayah.
“Dari semenjak ada COVID ya. Pas COVID itu kan kita buat ketahanan pangan ya. Jadi dari tahun 2019,” ucapnya.
Ia menegaskan, dirinya merawat kebun tersebut seorang diri, mulai dari mencangkul, menyemai, menanam, merawat hingga panen.
“Saya di sini pure sendiri. Sendiri, dari macul, nanam, merawat, sampai panen,” ucapnya.
Setiap hari Agus sudah berada di lokasi sejak pukul 06.00 WIB untuk menyiram tanaman. Setelah itu, ia melanjutkan dengan pekerjaan lain seperti mencangkul lahan baru dan mempersiapkan bibit.
“Soalnya kan kita jam 6 nyiram ya. Selesai nyiram ada kegiatan lain lagi seperti masih banyak bahan yang harus saya paculin,” tuturnya.
