DEPOK, POSKOTA.CO.ID - Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) kembali menorehkan prestasi di kancah internasional. Empat mahasiswa dari Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) UI berhasil menciptakan RunSight, perangkat wearable berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dirancang untuk membantu penyandang disabilitas visual berlari secara mandiri dan aman.
Inovasi tersebut dipresentasikan dalam ajang Samsung Solve for Tomorrow (SFT) dan mengantarkan Indonesia meraih predikat Global Ambassador pada kegiatan seremonial yang berlangsung di Milan, Italia, pada 8–10 Februari 2026.
Dikembangkan oleh Tim Labmino Fasilkom UI
RunSight dikembangkan oleh Tim Labmino, yang terdiri dari Muhammad Fazil Tirtana, Kaindra Rizq Sachio, Anthony Edbert Feriyanto, dan Ariq Maulana Malik Ibrahim.
Perangkat ini dirancang khusus untuk membantu penyandang gangguan penglihatan dalam mengenali jalur lari serta menghindari rintangan secara real time.
Baca Juga: Viral Demo Mabes Polri, UI Bongkar Fakta Pria Berjaket Almamater Universitas Indonesia
Ide RunSight berangkat dari pengalaman pribadi salah satu teman tim yang gemar berolahraga, namun mengalami katarak sehingga kesulitan melihat garis lintasan di trek lari.
Setelah dilakukan validasi, tim menemukan bahwa permasalahan serupa juga dialami oleh banyak penyandang disabilitas visual lainnya, sehingga mendorong pengembangan solusi berbasis teknologi AI.
Teknologi AI Real Time dan Desain Inklusif
RunSight memanfaatkan sensor dan sistem pemrosesan AI untuk membaca kondisi lingkungan sekitar pengguna secara langsung.
Informasi tersebut kemudian diterjemahkan menjadi panduan yang membantu pengguna tetap berada di jalur aman saat berlari.
Baca Juga: Kampus Favorit di Depok: Universitas Indonesia hingga PTS Berkualitas, Mana yang Cocok untuk Anda?
Dalam proses pengembangannya, Tim Labmino tidak hanya berfokus pada kecanggihan teknologi, tetapi juga memperhatikan aspek kenyamanan, efisiensi energi, serta potensi biaya produksi agar perangkat ini dapat diakses secara lebih luas.
“Kami ingin memastikan perangkat ini tidak hanya canggih, tetapi juga ringan dan hemat daya.
Tujuan utamanya adalah membuka akses olahraga yang lebih inklusif bagi teman-teman disabilitas visual,” ujar Anthony Edbert Feriyanto dalam keterangan resmi, Minggu, 1 Maret 2026.
Perjalanan Panjang di Samsung Solve for Tomorrow
Anthony menjelaskan bahwa perjalanan Tim Labmino di Samsung Solve for Tomorrow dimulai sejak Mei 2025 melalui tahap seleksi nasional dengan pengajuan concept paper.
Baca Juga: Gelar Doktor yang Diperoleh Bahlil Lahadalia Ditangguhkan Universitas Indonesia
Tim kemudian lolos ke tahap semifinal dan final nasional, sebelum melaju ke seleksi South East Asia and Oceania (SEAO) hingga Global Selection pada akhir 2025.
“Proses panjang ini menjadi ruang pembelajaran bagi kami. Tantangannya bukan hanya membuat alat yang berfungsi, tetapi memastikan solusi tersebut relevan, berempati, dan benar-benar bisa diterapkan,” ungkapnya.
Keberhasilan ini menjadikan Indonesia untuk pertama kalinya meraih predikat Global Ambassador, sekaligus menjadi satu dari dua negara di kawasan SEAO yang berhasil mencapai pencapaian tersebut.
Rektor UI, Heri Hermansyah, mengapresiasi prestasi yang diraih Tim Labmino dari Fasilkom UI. Menurutnya, inovasi ini menunjukkan peran mahasiswa dalam menghadirkan solusi nyata berbasis empati dan kepedulian sosial.
Baca Juga: Diterima di Kampus Universitas Indonesia, Sabrina Satu Kampus Dengan Anak Tirinya
“Prestasi ini membuktikan bahwa mahasiswa UI tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan inovasi yang berdampak luas bagi masyarakat. Inilah esensi pendidikan tinggi,” ujarnya.
Ia menambahkan, ke depan UI akan terus mendorong ekosistem inovasi yang kolaboratif dan inklusif agar semakin banyak karya mahasiswa yang mampu bersaing di tingkat internasional.
“Kami bangga atas keberanian dan konsistensi mereka membawa gagasan dari kampus hingga forum global. Semoga capaian ini menjadi inspirasi bagi sivitas akademika untuk terus berinovasi,” pungkasnya.
