Kronologi Penganiayaan 3 Pegawai SPBU Cipinang, Pelaku Emosi Ditolak Isi BBM

Selasa 24 Feb 2026, 13:35 WIB
Ilustrasi, kronologi penganiayaan yang dialami 3 karyawan SPBU Cipinang. (Sumber: freepik)

Ilustrasi, kronologi penganiayaan yang dialami 3 karyawan SPBU Cipinang. (Sumber: freepik)

PULO GADUNG, POSKOTA.CO.ID - Peristiwa penganiayaan yang dialami 3 pegawai SPBU di Cipinang Muara, Pulo Gadung, Jakarta Timur bermula dari penolakan pengisian BBM jenis Pertalite gegara barcode tidak sesuai.

Pelaku yang mengaku sebagai aparat itu tak terima dan melakukan penganiayaan pada Minggu, 22 Februari 2026 malam hari, sekitar pukul 22.00 WIB.

Salah satu pegawai SPBU yang menjadi korban, Lukman Hakim, 19 tahun, menceritakan kejadian penganiayaan yang menimpa dirinya serta dua rekan kerjanya tersebut.

Pada mulanya mobil Alphard datang untuk mengisi bahan bakar jenis Pertalite, namun ketika dilakukan pemindaian, barcode yang ditunjukkan tersebut tidak sesuai dengan jenis kendaraan.

Baca Juga: Sepekan Ramadan Tanpa Korban Tawuran, Polda Metro Jaya Amankan Enam Remaja

“Pelatnya sama, tapi mobil di barcode beda. Kalau kita kan sesuai SOP Pertamina, walaupun pelatnya sama tapi barcode beda, kita nggak boleh isi,” ujar Lukman kepada awak media, Selasa, 24 Februari 2026. 

Menurutnya, penolakan pengisian bahan bakar oleh operator sesuai ketentuan ini menjadi pemicu pelaku menjadi emosi. Situasi malah memanas ketika salah satu karyawan mencoba memberikan penjelasan.

Insiden penganiayaan terhadap tiga pegawai SPBU terjadi di kawasan Cipinang, Pulo Gadung, Jakarta Timur yang sempat viral di media sosial (medsos). (Sumber: Istimewa)

Salah seorang pegawai bahkan didorong hingga terbentur mobil, selanjutnya terjadi keributan dengan aksi saling dorong dan pemukulan.

Setelah memukul salah satu pegawai, pelaku kembali ke area SPBU dan melakukan kekerasan terhadap korban lain, termasuk Abud Mahmudin, 28 tahun yang mengalami luka serius.

Baca Juga: Bakar Tali Portal dan Terobos JLNT, Puluhan Pengendara Terancam Pidana

Lukman juga sempat dikejar pelaku hingga ke belakang mess karyawan. Setibanya di mess, warga menyarankan Lukman segera melapor ke kantor polisi. Menurut Lukman, pelaku beberapa kali mengaku memiliki jabatan tinggi dan menyebut ‘barcode Jenderal’, sehingga para pegawai memilih tidak melawan karena khawatir pelaku membawa senjata.


Berita Terkait


News Update