“Dia bilang, ‘Kamu tahu nggak ini barcode Jenderal?’ Berkali-kali dia ngomong begitu. Kita jadi takut juga,” kata Lukman.
Sementara itu, Abud Mahmudin mengaku sebenarnya ia tidak mengetahui secara pasti pemicu keributan di area SPBU tersebut. Pada saat kejadian, ia hanya berniat melihat situasi ketika mendengar kegaduhan. Abud bahkan tidak berbicara, namun tetap menjadi sasaran pemukulan pelaku.
“Saya nggak tahu awalnya gimana. Niatnya cuma mau tahu aja, kayak kepo doang karena ada kerusuhan. Namanya juga di lingkungan kerja,” ungkap Abud.
Baca Juga: Tiga Pegawai di Cipinang Dianiaya, Pelaku Mengaku Aparat
Ia mengatakan pukulan pertama mengenai bagian mata hingga membuatnya pusing. Pelaku kemudian kembali menghampiri dan memukul bagian pipi serta belakang telinga hingga menyebabkan giginya patah dan mengeluarkan darah.
“Gigi saya patah jadi setengah, nggak rata, berdarah karena sarafnya kena. Sampai sekarang susah makan, ngomong aja masih ngilu,” ucapnya.
Lebih lanjut, Mukhlisin, 38 tahun merupakan salah satu staf SPBU mengatakan, korban dalam peristiwa ini berjumlah 3 orang. Ketiganya yaitu Ahmad Khoirul Anam sebagai staf, Lukmanul Hakim sebagai operator, serta Abud Mahmudin sebagai operator.
"Ahmad Khoirul Anam mengalami tamparan di bagian pipi hingga bajunya robek saat terjadi aksi dorong-mendorong," jelas Mukhlisin.
Kemudian korban bernama Lukmanul Hakim dipukul di bagian rahang sebelah kanan. Sedangkan korban Abud Mahmudin mengalami pukulan di bawah mata dan di pipi dekat mulut hingga menyebabkan giginya patah. Ketiga korban langsung melapor ke pihak berwajib dan langsung menjalani visum di RS Polri Kramat Jati.
"Saat ini ketiganya masih dalam kondisi syok dan diistirahatkan sementara dari pekerjaan. Kalau pelaku angsung meninggalkan lokasi tanpa isi BBM," kata Mukhlisin. (man)
