“Paham Bor. Mulut tak hanya tidak boleh makan, juga puasa berbicara hal-hal yang kotor, mencaci, memfitnah dan berkata bohong,” timpal Yudi.
“Begitu juga mata untuk melihat yang baik-baik. Bukan mengintip hal-hal buruk. Tangan bukan digunakan untuk mengambil hak orang lain. Jangan pula lempar batu sembunyi tangan,” beber Heri.
“Kalau bisa bagaimana kita dapat berpuasa batin, hati kita dan pikiran kita ikut berpuasa membersihkan diri dari segala prasangka buruk terhadap orang lain,“ kata mas Bro.
“Tidak itu saja, hati kita juga dituntut untuk mampu mengendalikan suasana menuju terciptanya ketenangan, kenyamanan dan keikhlasan,” tutur Heri.
“Ketenangan batin akan menuntun kepada kesabaran. Sementara di dalam kesabaran akan tercipta kemampuan untuk mengendalikan diri sebagai makna hakiki dari tujuan berpuasa,” jelas mas Bro.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Optimis, Mudik Lebaran Lebih Tertib, Aman dan Selamat
“Di sinilah kita dituntut untuk rela berkorban, meningkatkan kepedulian, mengedepankan sikap kedermawanan, dan solidaritas sosial. Terlebih para pejabat publik di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat selama bulan puasa,” harap Heri. (Joko Lestari)
