POSKOTA.CO.ID - Umat Islam di Indonesia mulai hari ini, Kamis 19 Februari 2026, melaksanakan ibadah saum Ramadhan sebagaimana keputusan pemerintah yang menetapkan awal puasa jatuh pada hari ini.
Keputusan ini berbeda dengan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang menetapkan awal Ramadhan, Rabu, 18 Februari 2026 – satu hari lebih cepat.
Jika terdapat sebagian umat Islam yang memiliki keyakinan berbeda dalam menetapkan awal Ramadhan, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengimbau perbedaan tersebut tidak menimbulkan perpecahan.
Jadikan perbedaan sebagai kekayaan dan mozaik indah bangsa Indonesia. Kita sudah berpengalaman hidup dalam perbedaan, tetapi tetap kokoh dalam persatuan.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Menyoal Tembok Ratapan Solo
“Perbedaan awal puasa tidak hanya kali ini terjadi, tetapi acap terjadi, tetapi masing-masing tetap saling menghargai perbedaan. Awali puasa dengan menghargai perbedaan,” kata bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
“Kita sudah terbiasa dengan perbedaan, termasuk dalam awal bulan Syawal alias Idul Fitri, acap kali tidak sama, tetapi tetap jalan beriringan dengan tidak saling mengganggu, bahkan saling membantu,” ujar Yudi.
“Inilah contoh konkret menghargai perbedaan, tidak saja dalam kata, tetapi pada perilaku dan perbuatan nyata saat menjalankan ibadah puasa dan merayakan lebaran,” urai mas Bro.
“Perbedaan bukan menjadikan halangan. Lagi pula perbedaan itu biasa, yang terpenting kesamaan penentuan awal puasa, tetapi bagaimana menjalankan puasa, serta manfaat yang didapat,” ungkap Heri.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Mencermati Tahun Kuda Api
“Kalian harus ingat, puasa itu tidak sebatas sebuah aktivitas rutin untuk menahan lapar dan dahaga sepanjang hari sejak matahari terbit (baca Imsak) hingga mentari terbenam (azan Maghrib). Panca indera kita juga harus ikut puasa,” kata mas Bro.
“Paham Bor. Mulut tak hanya tidak boleh makan, juga puasa berbicara hal-hal yang kotor, mencaci, memfitnah dan berkata bohong,” timpal Yudi.
“Begitu juga mata untuk melihat yang baik-baik. Bukan mengintip hal-hal buruk. Tangan bukan digunakan untuk mengambil hak orang lain. Jangan pula lempar batu sembunyi tangan,” beber Heri.
“Kalau bisa bagaimana kita dapat berpuasa batin, hati kita dan pikiran kita ikut berpuasa membersihkan diri dari segala prasangka buruk terhadap orang lain,“ kata mas Bro.
“Tidak itu saja, hati kita juga dituntut untuk mampu mengendalikan suasana menuju terciptanya ketenangan, kenyamanan dan keikhlasan,” tutur Heri.
“Ketenangan batin akan menuntun kepada kesabaran. Sementara di dalam kesabaran akan tercipta kemampuan untuk mengendalikan diri sebagai makna hakiki dari tujuan berpuasa,” jelas mas Bro.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Optimis, Mudik Lebaran Lebih Tertib, Aman dan Selamat
“Di sinilah kita dituntut untuk rela berkorban, meningkatkan kepedulian, mengedepankan sikap kedermawanan, dan solidaritas sosial. Terlebih para pejabat publik di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat selama bulan puasa,” harap Heri. (Joko Lestari)
