Kemiskinan absolute (kapital, nalar dan moral) membuat kita tak punya daya inovasi, apalagi tekhnologi tinggi. Riset mati persis seperti banyak warga negara kita yang putus asa lalu memilih jadi agen asing.
Kini, subtansi Indonesia telah lama mati. Tentu hipotesa ini bukan ringkasan sejarah dan bukan nujum purba, tapi sebuah kesimpulan meyakinkan. Tak terbantahkan.
Jika tidak ada lagi keadilan sosial; tak ada lagi keadaban kemanusiaan; tak ada lagi moralitas ekopolitik, tidak ditemukan lagi kesentosaan bersama, siapa yang masih yakin negeri ini ada dan berdiri?
Kini, kalimat akhirnya dalam ketiadaan subtansi Indonesia adalah memahami bahwa "kebenaran dan idealitas yang dijalankan dengan ketulusan, meski menyakitkan dan tak mudah dipahami, adalah satu-satunya jalan menuju kemenangan dan keabadian."
Jalan itu bukan menang kalah, tapi usaha tak berhenti pada pencapaian. Terus dan terus sampai tubuh luruh dan ajal memeluk kita, penuh. Moyang kita menyebutnya jihad, pamit pejah. Melawan dan terus melawan sampai titik darah penghabisan.
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Mengakhiri Mimpi Makmur
Namun, ingat satu hal. Banyak perjalanan yang membuat kita dewasa, bukan karena panjangnya langkah, tapi karena banyaknya kekecewaan dan kepahitan yang harus kita terima tanpa suara kebingungan. Inilah karma hidup di Indonesia yang kini terbelenggu ekonomi kalabendu.
Disclaimer: Opini di atas merupakan buah pemikiran penulis. Artikel tersebut tidak mencerminkan pandangan Redaksi Poskota.
