JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Pengamat Tata Kota, Yayat Supriyatna menilai kerusakan jalan yang kerap terjadi pada musim penghujan sebenarnya merupakan hal yang wajar, mengingat air merupakan musuh utama konstruksi jalan.
Meski begitu, menurutnya persoalan utama bukan sekadar tingginya curah hujan, melainkan kualitas pembangunan dan pemeliharaan jalan yang masih jauh dari ideal.
“Kalau jalan rusak pada musim penghujan bisa dikatakan wajar. Air adalah musuh jalan, air adalah musuh aspal. Tapi yang menjadi pertanyaannya, kenapa aspalnya gampang rusak? Yang pertama, kualitas teknis pekerjaannya ada kemungkinan rendah,” ujar Yayat kepada Poskota, Minggu, 25 Januari 2026.
Ia menjelaskan, salah satu penyebab utama jalan cepat rusak adalah ketebalan aspal yang dibangun terlalu tipis. Dalam banyak kasus, pengerjaan jalan hanya mementingkan permukaan yang tampak mulus tanpa memperhatikan standar teknis ketebalan yang seharusnya.
Baca Juga: BPBD Bogor Minta Masyarakat Tingkatkan Kewaspadaan di Tengah Cuaca Ekstrem
“Ketebalan aspalnya tipis, yang penting mulus. Yang paling parah adalah jalan tidak didukung oleh drainase yang baik,” kata Yayat.
Menurutnya, fungsi drainase sangat krusial dalam menjaga umur jalan. Seharusnya ketika hujan turun, air tidak boleh menggenang sedikit pun di atas badan jalan.
Air harus segera terserap dan dialirkan ke gorong-gorong atau saluran air. Namun, pada kenyataannya pembangunan jalan sering kali tidak dibarengi dengan penataan drainase yang memadai.
“Yang menjadi masalah adalah pembangunan jalan tidak bersamaan dengan penataan drainase. Beda penanganannya kalau jalan oleh PU, PU jalan juga, tapi oleh drainase adalah Sumber Daya Air. Nah, itu yang menjadi masalah buat kita,” ucapnya.
Baca Juga: Usai Mogok Dagang! Pedagang Daging Sapi di Pasar Reni Jaya Lama Depok Diserbu Pembeli
Yayat juga menjelaskan, alasan mengapa perbaikan jalan jarang dilakukan secara maksimal saat musim hujan. Menurutnya, proses pengaspalan tidak akan efektif jika dilakukan dalam kondisi basah.
