Pengamat Tata Kota Sebut Drainase Buruk Percepat Kerusakan Jalan di Jakarta

Minggu 25 Jan 2026, 18:53 WIB
Ilustrasi, jalan rusak berlubang di Jakarta. (Sumber: Istimewa)

Ilustrasi, jalan rusak berlubang di Jakarta. (Sumber: Istimewa)

“Kalau ada perbaikan di musim penghujan, itu tidak akan maksimal hasilnya karena dia basah. Pengaspalan tidak efektif dilakukan pada saat musim hujan. Dia menunggu musim kemarau atau musim hujannya berkurang,” ucap Yayat.

Akibatnya, kerusakan jalan dibiarkan berlarut-larut hingga semakin parah. Kondisi tersebut diperburuk oleh faktor lain, yakni tonase kendaraan yang berlebihan. 

Ia juga menyoroti maraknya truk bertonase besar, termasuk kendaraan over dimension over loading (ODOL), yang melintas tanpa pengawasan ketat.

Baca Juga: Mobil Terperosok ke Parit di Jalan Bomang, Diduga Sopir Alami Microsleep

“Keparahan juga disebabkan salah satunya oleh tonase kendaraan yang suka berlebihan. Banyak tronton, odol yang merusak jalan. Mau pakai aspal apa pun, aspal kan ada umur teknisnya. Kalau ada banyak air, dia cepat rusak, apalagi dihantam tekanan kendaraan over dimensi dan overloading,” kata dia.

Yayat mengatakan, pelanggaran terhadap rambu-rambu batasan tonase kendaraan masih sangat sering terjadi di kota-kota besar di Indonesia. Hal tersebut semakin mempercepat kerusakan struktur jalan.

“Di Indonesia ini, rambu-rambu tentang batasan tonase itu banyak dilanggar. Suka-suka orang di kita ini,” katanya.

Selain itu, kondisi gorong-gorong yang tersumbat sampah, rusak, atau bahkan tertutup turut memperparah situasi. Menurut Yayat, pengabaian terhadap pemeliharaan drainase dan jalan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun membuat kerusakan terjadi jauh lebih cepat.

“Karena struktur jalan ketika terkena air ditambah tekanan kendaraan yang melintas sepanjang 24 jam, itu yang membuat umur teknisnya menjadi pendek,” ungkapnya.

Yayat mengatakan, cepatnya kerusakan jalan di Indonesia disebabkan oleh sejumlah faktor yang saling berkaitan. Mulai dari kualitas pekerjaan teknis yang tidak maksimal, tonase kendaraan yang tidak terkendali, sistem drainase yang buruk, hingga lemahnya penegakan aturan batas muatan kendaraan dan minimnya pemeliharaan rutin.

“Maka di Indonesia itu, mengapa kerusakan cepat terjadi? Pekerjaan teknisnya abal-abal, tonase tidak terkendali, drenasenya buruk, rambu batas tonase tidak ditaati, dan diperparah dengan pemeliharaan yang tidak maksimal, baik jalan maupun drainase,” kata Yayat. (cr-4)


Berita Terkait


News Update