"Rencananya jelas, investornya juga ada dari China, tapi saya harus berhenti tahun 2007. Akibatnya, saya tidak tahu, terus mangkrak jadi besi tua seperti ini, dan tahun 2014 monorel ini diganti dengan LRT, yang tidak ada rencana sebelumnya," katanya.
Sementara itu, semasa kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi), proyek tersebut tidak dilanjutkan hingga berakhir mangkrak.
"Tentu Gubernur waktu itu (Jokowi) punya alasan yang saya tidak tahu ya. Nah, sejak itulah mangkrak total ini, jadi besi tua, jadi apa namanya barang seperti ini yang merusak estetika kota," katanya.
Gubernur Jakarta, Pramono Anung mengambil kebijakan pembongkaran tiang monorel mangkrak. Sutiyoso mengapresiasi langkah tersebut.
"Saya kira sudah ditawarkan oleh Gubernur Pramono. Tidak bisa melanjutkan, ya dibongkar. Itu pilihan yang paling buruk, tetapi harus kita lakukan itu ya. Dan saya sekali lagi secara pribadi saya terima kasih. Mudah-mudahan kalau saya lewat ini enggak sakit mata lagi," tutur dia.

Di satu sisi, ia mengaku sedih proyek itu tidak bisa diselesaikan. Kesedihannya juga terasa begitu penerusnya juga enggan melanjutkan pembangunan monorel.
"Ya, sedih aja ya gitu kan, aku mulai itu jadinya kayak begini," kata dia.
Lebih lanjut, Bang Yos juga berharap, tiang monorel di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, juga dibongkar begitu penataan Rasuna Said selesai dalam Waktu delapan bulan.
"Supaya Anda tahu, kenapa kok minta rute Senayan? supaya nanti kalau bobotoh dari Bandung datang, Bonek dari Surabaya datang dari stasiun, tidak darat dia langsung monorel ke sana," ucap dia.
