Menanggapi pertanyaan tersebut, Aurelie memberikan jawaban singkat. Dalam balasannya di Instagram, ia menuliskan, “Belum berani baca dia,” disertai emotikon wajah berkaca-kaca.
Pernyataan singkat itu justru memantik empati lebih luas dari publik. Banyak pembaca menilai respons tersebut menunjukkan betapa berat isi buku Broken Strings, tidak hanya bagi Aurelie sebagai penulis, tetapi juga bagi orang-orang terdekat yang ikut merasakan dampak emosional dari kisah tersebut.
Kolom komentar di berbagai unggahan Aurelie pun dibanjiri reaksi emosional dari warganet. Banyak pembaca mengaku merasakan kepedihan mendalam meski baru membaca sebagian kecil buku tersebut.
“Baru baca seperempatnya tapi rasanya sudah sakit sekali. Semoga bahagia selalu untuk hidupmu selanjutnya,” tulis seorang netizen. Komentar lain menyoroti ketegaran Aurelie dalam menghadapi masa lalu, “Wajah secantik ini diludahi, tapi sekarang kamu berdiri lebih kuat.”
Respons tersebut mencerminkan penerimaan publik terhadap keberanian Aurelie dalam menyuarakan pengalaman traumatisnya. Buku ini dianggap memberi suara bagi banyak penyintas yang selama ini memilih diam.
