POSKOTA.CO.ID - Nama Aurelie Moeremans kembali menjadi perbincangan luas setelah merilis buku berjudul Broken Strings, Kepingan Masa Muda yang Patah.
Buku tersebut memuat pengakuan personal Aurelie tentang pengalaman pahit yang ia alami saat remaja, termasuk menjadi korban grooming dari mantan kekasihnya di usia 15 tahun.
Sejak dirilis, Broken Strings dengan cepat menyebar di media sosial dan menjadi bahan diskusi publik. Ribuan pembaca mengaku tersentuh oleh narasi yang disampaikan Aurelie secara jujur dan reflektif.
Tak sedikit pula figur publik dan sesama artis yang menyatakan telah membaca buku tersebut dan menyampaikan dukungan secara terbuka.
Hal ini memperkuat posisi buku tersebut bukan hanya sebagai karya sastra autobiografis, tetapi juga sebagai medium edukasi sosial mengenai kekerasan emosional, manipulasi relasi, dan trauma masa muda isu yang masih sering luput dibicarakan secara terbuka.
Jeremie Moeremans, Sosok Keluarga yang Turut Menjadi Perhatian
Seiring viralnya buku tersebut, perhatian publik turut mengarah pada Jeremie Moeremans, adik kandung Aurelie. Jeremie dikenal publik sebagai figur muda yang memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan hidup sang kakak, terutama pada fase remaja yang diceritakan dalam buku tersebut.
Dalam buku Broken Strings, Jeremie disebut sebagai salah satu saksi perjalanan hidup Aurelie di masa lalu. Hal ini membuat banyak warganet penasaran dengan respons emosional Jeremie setelah membaca kisah yang begitu personal dan menyakitkan tersebut.
Rasa ingin tahu publik itu terlihat jelas di kolom komentar akun Instagram Aurelie Moeremans. Salah satu komentar warganet berbunyi
“Kak gimana tanggapan Jeremie setelah membaca buku ini? Penasaran,” tulis akun netizen pada unggahan Aurelie tanggal 12 Januari 2026.
Baca Juga: Aurelie Moeremans dan Ibunda Pernah Datangi Komnas PA, Kini Fakta Lama Terkuak Lewat Memoar
Tanggapan Aurelie Soal Reaksi Sang Adik
Menanggapi pertanyaan tersebut, Aurelie memberikan jawaban singkat. Dalam balasannya di Instagram, ia menuliskan, “Belum berani baca dia,” disertai emotikon wajah berkaca-kaca.
Pernyataan singkat itu justru memantik empati lebih luas dari publik. Banyak pembaca menilai respons tersebut menunjukkan betapa berat isi buku Broken Strings, tidak hanya bagi Aurelie sebagai penulis, tetapi juga bagi orang-orang terdekat yang ikut merasakan dampak emosional dari kisah tersebut.
Kolom komentar di berbagai unggahan Aurelie pun dibanjiri reaksi emosional dari warganet. Banyak pembaca mengaku merasakan kepedihan mendalam meski baru membaca sebagian kecil buku tersebut.
“Baru baca seperempatnya tapi rasanya sudah sakit sekali. Semoga bahagia selalu untuk hidupmu selanjutnya,” tulis seorang netizen. Komentar lain menyoroti ketegaran Aurelie dalam menghadapi masa lalu, “Wajah secantik ini diludahi, tapi sekarang kamu berdiri lebih kuat.”
Respons tersebut mencerminkan penerimaan publik terhadap keberanian Aurelie dalam menyuarakan pengalaman traumatisnya. Buku ini dianggap memberi suara bagi banyak penyintas yang selama ini memilih diam.
