Pelaporan Pandji Pragiwaksono Malah Angkat Mens Rea ke Pencarian Teratas Google Trends, Ini Alasannya

Jumat 09 Jan 2026, 14:49 WIB
Ilustrasi pencarian Google Trends “Mens Rea” yang meningkat tajam setelah pelaporan, mencerminkan efek Streisand dalam ruang publik (Sumber: X/@ismailfahmi)

Ilustrasi pencarian Google Trends “Mens Rea” yang meningkat tajam setelah pelaporan, mencerminkan efek Streisand dalam ruang publik (Sumber: X/@ismailfahmi)

Setelah pelaporan, framing bergeser menjadi:

  • Simbol kebebasan berekspresi
  • Kritik terhadap kekuasaan
  • Representasi relasi negara dan warga

Begitu suatu karya masuk ke ranah “dikriminalisasi”, publik tidak lagi menilai apakah materi tersebut lucu atau tidak. Penilaian beralih ke pertanyaan yang lebih fundamental: adil atau tidak?

Pada titik ini, Mens Rea berhenti menjadi sekadar hiburan dan berubah menjadi artefak politik-budaya.

Efek “Martyrdom” dalam Psikologi Publik Digital

Pelaporan juga menciptakan relasi asimetris di mata publik digital: seorang komedian berhadapan dengan aparat hukum serta klaim representasi organisasi masyarakat besar seperti NU dan Muhammadiyah.

Dalam psikologi komunikasi digital, kondisi ini memicu apa yang disebut martyrdom effect, di mana publik cenderung bersimpati pada pihak yang tampak lebih lemah terutama ketika isu menyentuh kebebasan berpendapat dan ekspresi seni.

Delegitimasi Moral Pelapor

Dinamika semakin kompleks ketika Anwar Abbas, tokoh PP Muhammadiyah, menyampaikan pernyataan pada 9 Januari 2026 yang secara terbuka tidak mengakui pelaporan tersebut.

"Kita harus berlapang dada jika dikritik. Karena lewat kritik, kita bisa bercermin apakah kita sudah berbuat baik dan benar atau belum," tegas Anwar Abbas.

Pernyataan ini memicu delegitimasi moral terhadap pelapor. Klaim mewakili organisasi besar kehilangan otoritas simbolik, sementara Mens Rea justru memperoleh validasi moral dari sebagian elite organisasi keagamaan.

Polarisasi dan Amplifikasi Algoritmik

Kontroversi hukum memiliki daya sebar algoritmik yang jauh lebih kuat dibanding konten seni biasa. Media online, podcast, talkshow, hingga platform media sosial seperti X (Twitter), Instagram Reels, dan YouTube ikut mengangkat isu ini.

Algoritma media sosial membaca tingginya interaksi pro dan kontra sebagai indikator konten bernilai tinggi, sehingga distribusi semakin diperluas. Akibatnya, nama Mens Rea muncul lintas platform dan menjangkau audiens yang sebelumnya tidak memiliki ketertarikan pada stand-up comedy.

Inilah sebabnya tren pencarian pasca 8 Januari 2026 tidak menurun, melainkan terus meningkat.

Baca Juga: Imbas Mens Rea Pandji Pragiwaksono, Anak-anak Diserang Netizen di Media Sosial

Dampak Jangka Pendek dan Jangka Panjang

Dampak Jangka Pendek

  • Pamor Mens Rea meningkat secara nasional
  • Karya ini menjadi referensi kritik sosial
  • Audiens baru tercipta, didorong oleh isu hukum, bukan hiburan

Dampak Jangka Menengah–Panjang

  • Bagi kreator dan dunia seni, Mens Rea berpotensi menjadi tonggak diskursus kebebasan berekspresi di Indonesia.
  • Bagi ormas dan institusi, klaim representasi tanpa mandat resmi akan semakin dipertanyakan.
  • Bagi negara dan aparat hukum, muncul tekanan publik agar hukum tidak digunakan sebagai alat sensor terhadap karya seni.

Berita Terkait


News Update