Menurut penelitian, tegakan hutan yang berdaun jarum mampu membuat 60 persen air hujan terserap tanah. Bahkan, tegakan hutan yang berdaun lebar mampu membuat 80 persen air hujan terserap tanah.
Dengan kemampuan ini, pohon akan meningkatkan cadangan air tanah yang berujung pada kesejahteraan manusia. Oleh sebab itu, gerakan menanam pohon jangan hanya mengejar kuantitasnya, target jumlahnya, sejuta atau semiliar, tetapi juga kualitasnya dengan konsisten merawat dan menjaganya.
Langkah kecil seperti menanam dan merawat pohon di pekarangan rumah, sekolah, dan lingkungan sekitar sudah memberikan dampak positif bagi kelestarian lingkungan. Langkah kecil ini pula yang harus menjadi gerakan nasional hingga ke seluruh pelosok negeri dengan harapan setidaknya mencegah krisis lingkungan yang kian mewabah.
Persoalan serius yang kini sedang menjadi perumusan kebijakan kedepan,bukan sebatas degradasi hutan (penurunan kualitas hutan akibat tutupan pohon berkurang), tapi kian meluasnya deforestasi, yakni hilangnya hutan secara total menjadi lahan lain.
Data menunjukkan lebih dari 9 juta hektar hutan telah hilang sejak tahun 2000, dengan sebagian besar disebabkan oleh pembukaan lahan untuk perkebunan dan pertambangan.
Baca Juga: Kopi Pagi: Selaraskan Peran Perempuan
Data kementerian terkait juga menyebutkan laju deforestasi netto sepanjang tahun 2024 mencapai 175.400 hektar, meningkat dari tahun sebelumnya yang tercatat 121.100 hektar. Selama periode 2015–2019, deforestasi netto tercatat antara 439.000–629.000 hektar per tahun.
Alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit atau tambang terbuka, misalnya mempercepat laju deforestasi dan hilangnya habitat satwa liar.
Tak berlebihan sekiranya mencuat penilaian negeri kita termasuk salah satu negara dengan tingkat kerusakan lingkungan tertinggi di dunia. Kondisi ini tak hanya berdampak pada alam, juga sektor ekonomi, sosial dan kesehatan masyarakat.
Untuk mengatasinya harus dari sumber masalahnya, selain penegakan hukum secara tegas, adil, tanpa padang bulu, tanpa pula abu-abu. Rakyat tentu menunggu aksi nyata para penegak hukum mengadili para perusak lingkungan, pencuri sumber daya alam, kekayaan bangsa dan negara.
Baca Juga: Kopi Pagi: Solidaritas Tanpa Batas
Pemulihan krisis lingkungan tak bisa mengandalkan kebijakan pemerintah. Dunia, usaha, akademisi dan seluruh komponen bangsa perlu ikut serta.
