“Karena soal baik dan buruk, maka tafsirnya bisa berbeda – beda.Misalnya memegang wanita di angkutan umum,itu tidak baik, bisa tergolong pelecehan. Tetapi memegang ibu-ibu yang hendak jatuh terdorong penumpang, bisa disebut perbuatan baik,” ucap Heri.
“Begitu juga mengungkap aib atau keburukan orang lain itu dianggap tidak etis, namun boleh jadi dinilai etis jika bertujuan mengingatkan khalayak karena keburukan yang dilakukan itu bisa merugikan atau membahayakan orang lain,” timpal mas Bro.
“Jadi tafsir bisa berbeda tergantung sudut pandang, niat dan tujuan ya,” ujar Yudi.
“Lain lagi terhadap konten yang benar –benar tidak berdasarkan fakta, berita bohong, hoaks dan fitnah,” kata Heri.
“Persoalannya bagaimana memulihkan kepercayaan bahwa berita hoaks?” ujar Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Selamat Masuk Tahun Penuh Dinamika
“Ini yang menjadi soal. Tapi, apa pun masalahnya, penyelesaian secara damai itu lebih baik. Bukankah sering dikatakan damai itu indah,” tutur mas Bro. (Joko Lestari)
