Ia menjelaskan, kerusakan jalan di wilayahnya telah berlangsung selama belasan hingga sepuluh tahun. Kondisinya semakin parah karena sering dilintasi kendaraan berat.
Sementara itu, kemampuan desa untuk memperbaiki jalan sangat terbatas oleh regulasi dan anggaran dana desa.
"Waktu itu masyarakat menuntut, dan saya tidak bisa berbuat banyak. Bahkan saya pernah sampai meminjam material batu ke pihak lain untuk sekadar menambal jalan," tuturnya.
Baca Juga: Heboh Video CCTV Viral, Oknum Kepsek dan Guru PPPK Lampung Timur 3 Jam di Kamar Hotel
Menurut Jaeni, dari total enam kilometer jalan rusak, sekitar tiga kilometer kini telah dibangun dengan konstruksi beton melalui program Bang Andra. Jalan tersebut menjadi akses utama menuju sekolah dan lahan pertanian warga.
"Ini jalan paling vital. Walaupun masih ada beberapa titik yang rusak, setidaknya akses utama sudah terbuka," bebernya.
Ia menambahkan, pembangunan jalan tersebut dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat. Jaeni menyebut, warga menggelar syukuran secara spontan di beberapa kampung.
"Bahkan, di Kampung Ranca, warga melakukan makan bersama atau ngeliwet di jalan baru dengan daun pisang sepanjang puluhan meter sebagai simbol kebahagiaan," tambahnya. (fat)
