Dokumentasi perjalanan penataan ruang Jakarta juga diharapkan menjadi basis pengetahuan untuk mendukung pemanfaatan teknologi dalam perencanaan kota, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Foke mengakui buku tersebut masih memiliki kekurangan. Namun, dia membuka ruang bagi masukan dari para pakar dan pembaca untuk menyempurnakan dokumentasi sejarah penataan ruang Ibu Kota.
Menurut dia, generasi penerus perlu memahami perjalanan pembangunan Jakarta agar tidak mengulangi kesalahan masa lalu dan mampu menyusun kebijakan yang lebih baik.
Buku Perjalanan Penataan Ruang Ibu Kota Jakarta 1965-2012 ditulis tujuh tokoh, yakni Fauzi Bowo, Ery Chayaridipura, Nurfakih Wirawan, Sarwo Handayani, Aisa Tobing, Priyadi Priyautama, dan Bayu Wirawan.
Diseminasi buku tersebut juga diisi diskusi panel yang menghadirkan sejumlah pakar tata ruang nasional. Mereka antara lain Prof. Gunawan Tjahyono dari Universitas Indonesia (UI), Dr. Oswar Mungkasa dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), serta Dr. Ing. Heru Poerbo dari Pusat Studi Urban dan Desain (PSUD) Institut Teknologi Bandung (ITB).
Hadir pula Yayat Supriyatna dari Universitas Trisakti dan Hendricus Andy Simarmata dari Ikatan Ahli Perencanaan (IAP). Diskusi dimoderatori Ade Tinamei dari PSUD-ITB.
Melalui forum tersebut, para pakar membedah perjalanan kebijakan tata ruang Jakarta sekaligus merumuskan berbagai pelajaran penting untuk menentukan arah pembangunan kota pada masa mendatang.
