POSKOTA.CO.ID - Arti salib merah di Aksi Indonesia Sadar pada Rabu, 28 Oktober 2026 menjadi sorotan usai simbol tersebut dibawa oleh massa demonstrasi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat.
Simbol berukuran besar yang dibawa massa dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) tersebut hadir di tengah demonstrasi yang diikuti mahasiswa dan elemen masyarakat sipil.
Dalam aksi tersebut, salib merah dibawa menuju kawasan Gedung UOB dan Bundaran HI.
Seorang perwakilan mahasiswa bahkan terlihat memikul salib tersebut ke barisan depan sambil menyerukan penghentian perusakan hutan.
Kehadirannya menjadi bagian dari pesan yang ingin disampaikan massa mengenai dampak pembangunan terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan.
Lantas, salib merah di Aksi Indonesia Sadar 28 Oktober 2026 artinya apa? Berikut makna selengkapnya.
Baca Juga: Harga Emas Perhiasan 24K Hari Ini 29 Oktober 2026 Mulai Rp2,1 Jutaan, Cek Rincian per Gram
Arti Salib Merah di Aksi Indonesia Sadar 28 Oktober 2026 Apa?
Salib merah yang dibawa dalam demonstrasi tersebut disebut terinspirasi dari film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Laksono.
Film ini mengangkat persoalan ekspansi perkebunan, pembukaan hutan, serta proyek pembangunan berskala besar di Papua.
Isu tersebut menjadi salah satu latar yang menjelaskan mengapa simbol salib merah digunakan untuk menyampaikan pesan solidaritas terhadap masyarakat adat.
Dalam konteks tersebut, salib merah menggambarkan harapan agar hutan tetap terjaga dari aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan.
Simbol ini juga menyampaikan pesan mengenai pentingnya melindungi wilayah adat yang diwariskan secara turun-temurun.
Penggunaan salib merah bukan semata-mata untuk menunjukkan identitas kelompok tertentu.
Simbol tersebut juga dapat dipahami sebagai bentuk ekspresi duka, kepedulian, dan perlawanan damai terhadap ancaman kehilangan ruang hidup.
Penggunaan salib merah dalam perjuangan masyarakat adat Papua Selatan sendiri disebut telah berlangsung sejak sekitar 2014.
Simbol tersebut ditancapkan di sejumlah wilayah tanah ulayat sebagai penanda keberadaan masyarakat adat sekaligus pernyataan bahwa tanah tersebut memiliki arti penting bagi kehidupan mereka.
Salib merah yang ditancapkan di tanah adat bukan sekadar penanda fisik.
Keberadaannya menyampaikan pesan bahwa wilayah tersebut memiliki sejarah, nilai budaya, dan hubungan dengan leluhur yang perlu dihormati.
pengambilan keputusan yang menyangkut wilayah tempat mereka tinggal.
Salib merah kemudian dikenal dalam berbagai pembahasan mengenai perjuangan masyarakat adat Papua mempertahankan tanah dan hutan.
Warna merah pada salib tersebut memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan darah, penderitaan, dan doa masyarakat adat.
Makna ini menggambarkan kekhawatiran atas ancaman terhadap hutan serta kemungkinan hilangnya wilayah yang menjadi bagian dari kehidupan komunitas setempat.
Salib merah juga menjadi pengingat bahwa kerusakan lingkungan tidak hanya berdampak pada pepohonan atau satwa liar.
Perubahan bentang alam dapat memengaruhi kehidupan masyarakat yang selama ini bergantung pada hutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menjaga tradisi mereka.
