Luhut Buka Suara soal Pemangkasan Ekspor Gas ke Singapura, Ini Alasan Pemerintah

Kamis 29 Okt 2026, 11:53 WIB
Respon Luhut Binsar Pandjaitan usai Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti divonis bebas. (Foto: Instagram/@luhut.pandjaitan)
Respon Luhut Binsar Pandjaitan usai Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti divonis bebas. (Foto: Instagram/@luhut.pandjaitan)

POSKOTA.CO.ID - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan bahwa keputusan pemerintah memangkas ekspor gas alam ke Singapura bukan bentuk perselisihan antara kedua negara. Menurutnya, Indonesia perlu memiliki sikap yang jelas dalam mengelola sumber daya energi demi memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Pernyataan tersebut disampaikan Luhut di kantor DEN, Jakarta, Selasa (27/10/2026). Ia mengaku telah berbicara dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengenai rencana pengalihan sebagian pasokan gas yang sebelumnya dikirim ke Singapura.

"Sebenarnya kita ngapain berkelahi sama Singapura, kan enggak ada juga. Tetapi kita juga sebagai negara harus punya posisi yang jelas dan kita sendiri melakukan introspeksi dalam banyak hal bagaimana negara kita ini bisa lebih bagus," kata Luhut.

Ia menilai evaluasi terhadap pemanfaatan gas perlu dilakukan agar kebutuhan energi domestik mendapat perhatian yang memadai. Luhut juga menyinggung posisi Presiden Prabowo Subianto di kawasan ASEAN yang dinilainya perlu menjadi pertimbangan negara-negara tetangga dalam hubungan regional.

Baca Juga: Operasi Patuh Maung 2026, Polresta Tangerang Ingatkan Pengemudi Pakai Sabuk Pengaman

Ekspor Gas ke Singapura Dipangkas 31 BBtud

Pemerintah mulai mengurangi volume ekspor gas bumi ke Singapura pada Sabtu (24/10/2026). Sebagian pasokan tersebut dialihkan untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik di Batam dan sejumlah wilayah di Sumatra.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menjelaskan, pengurangan dilakukan melalui dua jalur pasokan, yakni Natuna dan Sumatra. Dari Natuna, volume ekspor dikurangi sebesar 15 BBtud, sedangkan dari Sumatra melalui pipa sebesar 16 BBtud.

Dengan demikian, total pengurangan ekspor mencapai 31 BBtud. Satuan BBtud merujuk pada billion British thermal units per day, yaitu satuan energi gas per hari.

Gas dari Natuna dialihkan kepada PT PLN Batam melalui jaringan pipa WNTS–Pulau Pemping–Batam. Sementara itu, pasokan dari Sumatra dimanfaatkan untuk kebutuhan listrik di Batam, Bintan, dan Sumatra melalui jaringan pipa PT Transportasi Gas Indonesia (TGI).

Pengalihan tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah sedang menyesuaikan pemanfaatan gas dengan kebutuhan energi domestik. Namun, dampaknya terhadap pasokan listrik dan keberlanjutan ekspor tetap perlu dilihat berdasarkan perkembangan kebijakan berikutnya.

Bagaimana dengan Rencana Ekspor Listrik ke Singapura?

Pemangkasan ekspor gas ini menjadi perhatian karena Indonesia sebelumnya menyepakati kerja sama perdagangan listrik dengan Singapura dalam Leaders' Retreat pada awal Juli 2026.


Berita Terkait


News Update