Ekonomika Pancasila: Nusantaranomic

Rabu 28 Okt 2026, 16:44 WIB
Opini Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono. (Sumber: Dok. Poskota)
Opini Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono. (Sumber: Dok. Poskota)

POSKOTA.CO.ID - Mengapa paradoks ini terus berlangsung, negara punya trilyunan sumber daya alam (SDA) namun rakyatnya miskin. Rakyat beli bensin cash, pertaminanya banyak hutang. Rakyat bayar lunas listrik, PLN tetap banyak hutang. Rakyat beli tiket pesawat dan kereta cash, tapi Garuda dan KAI banyak hutang. Bahkan saat penulis buku "Paradoks Indonesia" menjadi presiden, paradoks-paradoks itu makin nyata.

Ya. Pada mulanya ini soal peradaban. Dan, kegelisahan terus bertengger mengikutinya. Peradaban (akar katanya adab) adalah ultima. Ia hadir dalam damai, kini dirubah jadi konflik.

Ia terajut dalam gotong-royong, kini dilakoni dengan gotong-nyolong. Ia tertradisi dalam spiritualis, kini dihegemoni dengan matrealis. Ia bersendi bahagia, kini dibuat semua paria.

Itulah perjalanan peradaban kita, nusantara. Adakah ini takdir bisu kita semua? Atau ada hal lain yang sebenarnya tidak tak ditemukan? Dengan gelisah kami telusuri. Dengan bertanya kami selidiki. Dengan serius kami riset dan cari akar masalahnya. Dengan sungguh-sungguh kami singkap serius masalah tak masuk akal ini.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Beyond Oligark State

Mari kita mulai. Kalian tahu kenapa korupsi di republik ini tak bisa disudahi? Karena kita menghadapi "ketidakpastian masa depan." Ketidakpastian itu menghasilkan kecemasan. Dan, kecemasan itu menghasilkan tindakan ketidakwarasan: korupsi, kolusi, nepotisme, nyolong, nyopet, nggarong, ngutil, ngapusi. Saat ketidakwarasan ini berulang zaman, ia dianggap "keumuman, kewajaran dan kebenaran."

Bekerja, tak pasti dapat gaji. Berprestasi, tak dapat promosi. Berbuat baik, tak dihargai. Beribadah, tak dapat tempat yang layak dalam kehidupan. Lihatlah, di banyak perumahan, di depan rumah mereka membuat tandon air.

Mengapa itu terjadi? Karena mereka tahu saat PAM mati, tidak ada satupun instansi yang cepat mengatasi. Daripada mereka sibuk ke sana ke mari, buat tandon adalah solusi.

Kelihatannya waras. Tapi di balik solusi itu tersimpan "rasa tidak percaya" pada siapapun dan "cemas tiada tara" kalau air tak ada.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Mentradisikan Askiologi Ekopol Pancasila

Akibatnya: timbun air. Mereka tidak mau tahu, apakah tetangga atau orang lain butuh air saat itu. Mereka selfish, mikir diri sendiri. Mau selamat sendiri, mau bahagia sendiri. Individualisme itu akarnya, matrealisme itu pohonnya. Liberalisme itu cabangnya, anti sosial itu daunnya dan kolonialisme itu musimnya.

Dan, kita korban dari itu semua hingga kini. Kadang ada sedikit muncul perlawanan sporadis. Tapi, kembali tenggelam oleh kecemasan itu lagi. Diperparah oleh kerakusan sebagai ujung dari peradaban cemas dan tandas.

Pada peradaban yang sakit, mereka yang curang, terlihat kaya. Mereka zalim, tapi berkuasa. Mereka menyakiti orang lain, tapi hidupnya terlihat bahagia. Sementara yang waras, idealis, jujur tersingkir secara sistematis.

Dan, yang paling rumit dari semuanya adalah mencari orang-orang idealis untuk mengajarkan prinsip keadilan, kejujuran, toleransi, kemanusiaan, tanggung jawab, dan keteladanan, karena setiap hari kita saksikan berita tentang perilaku sebagian besar pejabat republik mengkhianatinya. Tuntunan hilang berganti tontonan.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Memunggungi Ekonomi Laut Kita

Kami periksa fenomena ini. Kami diskusikan tradisinya. Kami kuliti filsafat ilmunya. Kami petakan fungsi, struktur dan kulturnya. Kami dekati dengan sejarah aktif, etimologi, linguistik bahkan dekonstruksi. Kami ajukan rekonstruksi dan finalisasi dengan "konfigurasi sistem." Begitulah hari demi hari kami berkutat dari pertanyaan-pertanyaan dan milyaran jawaban.

Coba kita catat beberapa pertanyaan itu:

  • Kita penuh bencana alam, kenapa tak banyak pelajaran disaster/kebencanaan?
  • Kita penuh multi kultur dan multi agama, tapi tak ada pelajaran konsensus?
  • Kita penuh SDA, tapi pelajaran geografi dihapus?
  • Kita penuh varietas pohon dan semesta, tapi pelajaran teknologi pangan bukan idola?
  • Kita majemuk bin plural, tapi pelajaran pancasila dan konstitusi absen?
  • Kita hidup dalam ruang maritim dan dirgantara, tapi pelajaran keduanya tak ada?
  • Kita ada di titik persimpangan benua, tapi kurikulum geostrategis tak muncul?
  • Kita bekas jajahan, tapi kurikulum postkolonial tak datang?

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: The Theory of Everything

Kita ingin negeri makmur jadi mercusuar dunia, tapi metoda imajinasi tak dapat ruang di kelas-kelas. Dan, masih milyaran pertanyaan di luar sana.

Lewat sekulah kejeniusan ekopol konstitusi, semua didiskusilan kembali: formula, deformula dan reformula. Sangat serius, intens, fokus dan ikhlas. Hasilnya, diskursus nusantaranomic. Belum jadi dentuman, tapi setidaknya "mula kesadaran." Kesadaran bahwa neoliberalisme hanya akan takluk oleh "pemikiran terbaik, agensi terjenius dan rahmat Allah SWT."

Ya. Tentu saja kami ingin menulis buku yang jika dibaca orang, mereka bergerak melawan kemungkaran yang sudah akut di republik ini. Sebelum terjadi, kami sadar dulu bahwa ibadah terbaik adalah menolong sesama. Dan, doa terbaik adalah meninggalkan dosa. Baru sampai di sini sejarah riset dan buku-buku kami.

Sejarah yang meliuk-liuk tak bertepi: dari manusia, kita bertanya tentang Tuhan. Dari Tuhan, kita bertanya tentang semesta. Dari semesta, kita kembali bertanya tentang manusia, bagaimana agar kemanusiaan kita manfaat maksimal bagi sesama.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Percakapan Ekonom-Politik Indonesia Terbaru

Tentu saja, kami sadar bahwa ilmu pengetahuan lama bukan benda pusaka yang harus dipertahankan apa adanya. Ia juga bukan dokumen yang boleh diubah sesukanya. Ia kami tempatkan sebagai mula konsensus kemanusiaan yang layak jadi jembatan. Karenanya, di atas segala pertengkaran dan guyon yang tersaji, ilmu pengetahuan itu harus berpihak kepada kedaulatan rakyat: agar bermartabat, adil dan sentosa.

Juga, saat republik ini banjir penjilat, dan kekeringan pemikir, kami hadir dengan jiwa raga mutakhir.

Opini ini ditulis oleh CEO Nusantara Center Yudhie Haryono.


Berita Terkait


News Update