POSKOTA.CO.ID - Mengapa paradoks ini terus berlangsung, negara punya trilyunan sumber daya alam (SDA) namun rakyatnya miskin. Rakyat beli bensin cash, pertaminanya banyak hutang. Rakyat bayar lunas listrik, PLN tetap banyak hutang. Rakyat beli tiket pesawat dan kereta cash, tapi Garuda dan KAI banyak hutang. Bahkan saat penulis buku "Paradoks Indonesia" menjadi presiden, paradoks-paradoks itu makin nyata.
Ya. Pada mulanya ini soal peradaban. Dan, kegelisahan terus bertengger mengikutinya. Peradaban (akar katanya adab) adalah ultima. Ia hadir dalam damai, kini dirubah jadi konflik.
Ia terajut dalam gotong-royong, kini dilakoni dengan gotong-nyolong. Ia tertradisi dalam spiritualis, kini dihegemoni dengan matrealis. Ia bersendi bahagia, kini dibuat semua paria.
Itulah perjalanan peradaban kita, nusantara. Adakah ini takdir bisu kita semua? Atau ada hal lain yang sebenarnya tidak tak ditemukan? Dengan gelisah kami telusuri. Dengan bertanya kami selidiki. Dengan serius kami riset dan cari akar masalahnya. Dengan sungguh-sungguh kami singkap serius masalah tak masuk akal ini.
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Beyond Oligark State
Mari kita mulai. Kalian tahu kenapa korupsi di republik ini tak bisa disudahi? Karena kita menghadapi "ketidakpastian masa depan." Ketidakpastian itu menghasilkan kecemasan. Dan, kecemasan itu menghasilkan tindakan ketidakwarasan: korupsi, kolusi, nepotisme, nyolong, nyopet, nggarong, ngutil, ngapusi. Saat ketidakwarasan ini berulang zaman, ia dianggap "keumuman, kewajaran dan kebenaran."
Bekerja, tak pasti dapat gaji. Berprestasi, tak dapat promosi. Berbuat baik, tak dihargai. Beribadah, tak dapat tempat yang layak dalam kehidupan. Lihatlah, di banyak perumahan, di depan rumah mereka membuat tandon air.
Mengapa itu terjadi? Karena mereka tahu saat PAM mati, tidak ada satupun instansi yang cepat mengatasi. Daripada mereka sibuk ke sana ke mari, buat tandon adalah solusi.
Kelihatannya waras. Tapi di balik solusi itu tersimpan "rasa tidak percaya" pada siapapun dan "cemas tiada tara" kalau air tak ada.
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Mentradisikan Askiologi Ekopol Pancasila
Akibatnya: timbun air. Mereka tidak mau tahu, apakah tetangga atau orang lain butuh air saat itu. Mereka selfish, mikir diri sendiri. Mau selamat sendiri, mau bahagia sendiri. Individualisme itu akarnya, matrealisme itu pohonnya. Liberalisme itu cabangnya, anti sosial itu daunnya dan kolonialisme itu musimnya.
