Dan, kita korban dari itu semua hingga kini. Kadang ada sedikit muncul perlawanan sporadis. Tapi, kembali tenggelam oleh kecemasan itu lagi. Diperparah oleh kerakusan sebagai ujung dari peradaban cemas dan tandas.
Pada peradaban yang sakit, mereka yang curang, terlihat kaya. Mereka zalim, tapi berkuasa. Mereka menyakiti orang lain, tapi hidupnya terlihat bahagia. Sementara yang waras, idealis, jujur tersingkir secara sistematis.
Dan, yang paling rumit dari semuanya adalah mencari orang-orang idealis untuk mengajarkan prinsip keadilan, kejujuran, toleransi, kemanusiaan, tanggung jawab, dan keteladanan, karena setiap hari kita saksikan berita tentang perilaku sebagian besar pejabat republik mengkhianatinya. Tuntunan hilang berganti tontonan.
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Memunggungi Ekonomi Laut Kita
Kami periksa fenomena ini. Kami diskusikan tradisinya. Kami kuliti filsafat ilmunya. Kami petakan fungsi, struktur dan kulturnya. Kami dekati dengan sejarah aktif, etimologi, linguistik bahkan dekonstruksi. Kami ajukan rekonstruksi dan finalisasi dengan "konfigurasi sistem." Begitulah hari demi hari kami berkutat dari pertanyaan-pertanyaan dan milyaran jawaban.
Coba kita catat beberapa pertanyaan itu:
- Kita penuh bencana alam, kenapa tak banyak pelajaran disaster/kebencanaan?
- Kita penuh multi kultur dan multi agama, tapi tak ada pelajaran konsensus?
- Kita penuh SDA, tapi pelajaran geografi dihapus?
- Kita penuh varietas pohon dan semesta, tapi pelajaran teknologi pangan bukan idola?
- Kita majemuk bin plural, tapi pelajaran pancasila dan konstitusi absen?
- Kita hidup dalam ruang maritim dan dirgantara, tapi pelajaran keduanya tak ada?
- Kita ada di titik persimpangan benua, tapi kurikulum geostrategis tak muncul?
- Kita bekas jajahan, tapi kurikulum postkolonial tak datang?
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: The Theory of Everything
Kita ingin negeri makmur jadi mercusuar dunia, tapi metoda imajinasi tak dapat ruang di kelas-kelas. Dan, masih milyaran pertanyaan di luar sana.
Lewat sekulah kejeniusan ekopol konstitusi, semua didiskusilan kembali: formula, deformula dan reformula. Sangat serius, intens, fokus dan ikhlas. Hasilnya, diskursus nusantaranomic. Belum jadi dentuman, tapi setidaknya "mula kesadaran." Kesadaran bahwa neoliberalisme hanya akan takluk oleh "pemikiran terbaik, agensi terjenius dan rahmat Allah SWT."
Ya. Tentu saja kami ingin menulis buku yang jika dibaca orang, mereka bergerak melawan kemungkaran yang sudah akut di republik ini. Sebelum terjadi, kami sadar dulu bahwa ibadah terbaik adalah menolong sesama. Dan, doa terbaik adalah meninggalkan dosa. Baru sampai di sini sejarah riset dan buku-buku kami.
Sejarah yang meliuk-liuk tak bertepi: dari manusia, kita bertanya tentang Tuhan. Dari Tuhan, kita bertanya tentang semesta. Dari semesta, kita kembali bertanya tentang manusia, bagaimana agar kemanusiaan kita manfaat maksimal bagi sesama.
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Percakapan Ekonom-Politik Indonesia Terbaru
