Setelah pembiayaan dicairkan, pengelolaan dana untuk kebutuhan budidaya dilakukan melalui mekanisme yang disepakati, termasuk pemindahbukuan berdasarkan surat kuasa dari petani. Dana tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sarana produksi pertanian, seperti bibit, pupuk, upah tenaga kerja, dan berbagai kebutuhan budidaya lainnya selama satu siklus produksi.
Wanoja Coffee juga menjalankan fungsi pendampingan dan monitoring secara berkala kepada petani mitra, mulai dari masa budidaya hingga panen. Pada saat panen, hasil produksi kopi petani berupa cherry maupun beans dibeli oleh Wanoja Coffee sesuai harga yang telah disepakati di awal. Pola ini membantu menghubungkan dukungan pembiayaan dengan kebutuhan produksi serta pemasaran hasil perkebunan.
Kerja sama tersebut turut tercermin dalam portofolio pembiayaan petani mitra binaan Wanoja Coffee. Sepanjang 2022 hingga 2026 tercatat 90 fasilitas pembiayaan dengan total penyaluran mencapai Rp6,635 miliar. Selain memperkuat pasar domestik, Wanoja Coffee juga menunjukkan perkembangan orientasi ekspor. Pada 2022 volume penjualan sebesar 25 ton, kemudian meningkat menjadi 35 ton pada 2023, dan mencapai 80 ton pada 2024. Pada periode yang sama, porsi ekspor meningkat dari 10 persen pada 2022 menjadi 17 persen pada 2023, kemudian mencapai 63 persen pada 2024.
Baca Juga: bank bjb Raih Pengakuan Top 50 Emiten MidCap dalam IICD CG Award 2026
Perkembangan tersebut mencerminkan semakin terbukanya peluang bagi produk kopi lokal untuk memasuki pasar internasional. Ekspor Wanoja Coffee antara lain Jepang, Dubai, Thailand, Jerman, sejumlah pasar di Eropa, Qatar, Belanda, Arab Saudi, Taiwan, Malaysia, dan Australia.
Ke depan, peluang pengembangan kemitraan bank bjb dan Wanoja Coffee dilakukan melalui program PESAT yang mendukung pemberdayaan pelaku usaha. Program ini mencakup literasi keuangan, pelatihan, pendampingan, serta fasilitasi partisipasi dalam berbagai pameran atau expo untuk memperluas jejaring dan memperkenalkan produk kepada calon mitra bisnis.
Penguatan hubungan usaha juga dapat dikembangkan melalui pemanfaatan layanan perbankan untuk transaksi operasional, tabungan, dan giro. Seiring dengan meningkatnya orientasi ekspor, terdapat pula peluang pengembangan layanan perdagangan internasional, termasuk trade finance, transaksi valuta asing, pengelolaan risiko nilai tukar, dan dukungan modal kerja terkait pesanan ekspor sesuai kebutuhan serta kelayakan usaha. Pengembangan layanan tersebut dapat membantu pelaku UMKM mengelola transaksi lintas negara secara lebih terstruktur.
Potensi kemitraan juga mencakup pengenalan produk Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) bagi pengelola, pekerja, maupun anggota jaringan Wanoja Coffee. Dukungan terhadap Wanoja Coffee menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi usaha lokal agar semakin tangguh, produktif, dan berdaya saing, sehingga kopi Jawa Barat dapat semakin dikenal dunia serta memberikan nilai ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.
