“Peluang sih oke, persoalannya punya peluang terpilih enggak. Harus punya modal tak hanya dukungan massa, juga finansial, ” urai mas Bro.
“Kan punya pengalaman mengurus organisasi sosial kemasyarakatan yang jumlah anggotanya cukup besar. Sudah punya massa, bisa digiring ke sana. Itu bisa sebagai modal politik,” kata Heri.
“Saat menjadi pengurus organisasi sosial boleh jadi meraih simpati, banyak dukungan karena fungsi sosialnya. Tapi tidak begitu masuk parpol, karena mungkin saja beda aspirasi dan afiliasi politik,” urai mas Bro.
“Belum lagi persoalan elektoral di dapilnya, baik dari partainya maupun figur personalnya. Keduanya harus beriringan. Bisa jadi kita dukung figurnya, tapi kurang suka dengan partainya, bisa mengalihkan dukungan. Sebaliknya, suka partainya tapi tak suka calegnya, pilihan bisa berubah,” tambah mas Bro.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Konstitusi Tak Cukup Diingat Teksnya, Terpenting Amalannya
“Tapi setidaknya terbuka peluang mendaftar menjadi caleg lewat program naturalisasi Bro?” ujar Yudi.
“Kalau sebatas pernah terdaftar sebagai caleg, itu beda lagi. Tapi, apa pun alasannya, yang akan dilirik tentunya figur potensial. Kalau tidak punya potensi, jangan harap dilirik,” jelas Heri.
“Iya juga karena naturalisasi punya misi mendongkrak perolehan suara agar lolos ke Senayan, menambah jumlah kursi di DPR,” celatuk Yudi.
