Prabowo juga membuka kemungkinan penghematan yang lebih besar apabila diperlukan.
Efisiensi anggaran dipandang sebagai salah satu langkah untuk menghadapi tantangan sekaligus memastikan penggunaan dana negara sesuai prioritas pembangunan.
Meski demikian, Presiden tidak merinci pos belanja yang akan dikurangi, besaran penghematan yang ditargetkan, maupun mekanisme pelaksanaannya dalam pidato tersebut.
Pelaksanaan efisiensi perlu mempertimbangkan kebutuhan pelayanan publik dan keberlanjutan program pemerintah.
Penghematan anggaran juga perlu diarahkan pada penggunaan dana yang lebih tepat sasaran, bukan sekadar mengurangi belanja tanpa memperhitungkan dampaknya terhadap masyarakat.
Memasuki tahun ketiga pemerintahan, jajaran kabinet menghadapi tuntutan untuk melanjutkan program yang sudah berjalan sekaligus memperbaiki pelaksanaannya.
Hasil kebijakan, efektivitas belanja, dan manfaat program menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan.
10. Kabinet Belum Masuk Babak Kedua
Prabowo menggunakan analogi pertandingan sepak bola untuk menggambarkan perjalanan kabinet selama lima tahun.
Menurutnya, dua tahun pertama pemerintahan belum mencapai jeda babak pertama atau half-time, karena masa paruh waktu baru tiba setelah sekitar dua setengah tahun.
Presiden juga mengingatkan para menteri dan pejabat yang belum memperoleh peran lebih besar agar tidak merasa frustrasi.
Dia menyatakan, setiap pejabat memiliki kesempatan untuk menjalankan peran sesuai kebutuhan dan strategi pemerintah.
“Sebagaimana saya sampaikan dari awal pemerintahan kita tidak semua pemain akan kita mainkan di awal. Ada yang cadangan, ada yang pendukung, ada yang striker ya. Yang cadangan jangan frustrasi. Pada saatnya Saudara akan kita mainkan. Ibarat ini pertandingan sepak bola, kita sesungguhnya belum sampai ke half-time. Apa itu half-time? Ya, kita belum selesai satu babak kan. Kita ini lima tahun, jadi dua setengah tahun baru, ya babak pertama,” tandas Prabowo.
