LAMPUNG SELATAN, POSKOTA.CO.ID - Penampakan tidak biasa terlihat di kawah Gunung Anak Krakatau setelah rangkaian erupsi pada awal September 2026. Rekaman udara yang beredar di media sosial memperlihatkan permukaan kawah dengan pola warna yang sekilas menyerupai telur ceplok.
Dalam video yang diunggah akun Instagram @wxchasing, bagian luar genangan tampak berwarna kebiruan, sedangkan bagian tengahnya terlihat kekuningan. Bentuk tersebut kemudian menarik perhatian karena muncul ketika aktivitas permukaan Gunung Anak Krakatau mulai terlihat lebih tenang.
Namun, tampilan kawah yang unik ini bukan berarti aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau telah selesai. Berdasarkan keterangan petugas pemantauan, fenomena tersebut berkaitan dengan genangan air yang berada di area kawah dan terkontaminasi gas belerang.
Apa Penyebab Fenomena “Telur Ceplok” di Kawah Anak Krakatau?
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau Lampung Selatan, Suwarno, menjelaskan fenomena tersebut saat memberikan keterangan pada Jumat, 18 September 2026.
“Iya itu kawah GAK, jadi itu adalah air yang terkontaminasi dengan gas belerang,” ujar Suwarno.
Menurut penjelasannya, warna pada genangan tidak hanya dipengaruhi kandungan belerang. Material pada lapisan dinding kawah juga dapat memengaruhi perubahan warna air sehingga dari udara terlihat seperti bagian putih dan kuning pada telur ceplok.
Fenomena seperti ini juga tidak otomatis menunjukkan munculnya jenis aktivitas vulkanik baru. Justru, kondisi tersebut perlu dilihat bersama data pemantauan kegempaan dan aktivitas gunung secara keseluruhan.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau Masih Dipantau
Gunung Anak Krakatau sebelumnya mengalami erupsi menerus sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Episode tersebut berlangsung sekitar 25 jam. Setelahnya, Badan Geologi mencatat erupsi Strombolian yang menjadi salah satu karakteristik aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Pada 11 September, status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada di Level III atau Siaga. Masyarakat dan wisatawan juga diminta tidak memasuki kawasan dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung api.
Artinya, meski secara visual kawah terlihat lebih tenang, pemantauan tetap diperlukan. Pada 18 September, petugas juga masih melaporkan adanya aktivitas kegempaan dan tremor menerus di kawasan gunung.
Hal penting dari fenomena kawah Anak Krakatau
Bukan telur sungguhan, melainkan genangan air di area kawah.
Warna genangan dipengaruhi gas belerang dan material pada dinding kawah.
Fenomena visual tidak menandakan aktivitas vulkanik berakhir.
Kegempaan masih dipantau setelah rangkaian erupsi awal September.
Radius 3 kilometer dari kawah aktif masih harus dihindari sesuai rekomendasi yang berlaku.
Baca Juga: Danny Setiawan Meninggal Dunia di Usia 81 Tahun, Ini Profil dan Keluarganya
Tetap Waspada Meski Kawah Terlihat Tenang
Fenomena “telur ceplok” di Gunung Anak Krakatau memang menarik perhatian karena bentuk dan warnanya tidak biasa. Meski begitu, kondisi visual dari udara sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya patokan untuk menilai aktivitas gunung api.
Badan Geologi sebelumnya menegaskan bahwa dinamika vulkanisme Anak Krakatau masih terus dipantau dan dievaluasi. Karena itu, masyarakat sebaiknya mengikuti informasi resmi dari PVMBG, Badan Geologi, BNPB, atau pemerintah daerah, terutama ketika terjadi perubahan aktivitas.
Bagi warga yang terdampak abu vulkanik, penggunaan masker ketika beraktivitas di luar rumah juga dapat membantu mengurangi paparan debu vulkanik. Yang terpenting, jangan mendekati kawasan terlarang hanya untuk melihat langsung fenomena kawah yang sedang viral.
