Bukan telur sungguhan, melainkan genangan air di area kawah.
Warna genangan dipengaruhi gas belerang dan material pada dinding kawah.
Fenomena visual tidak menandakan aktivitas vulkanik berakhir.
Kegempaan masih dipantau setelah rangkaian erupsi awal September.
Radius 3 kilometer dari kawah aktif masih harus dihindari sesuai rekomendasi yang berlaku.
Baca Juga: Danny Setiawan Meninggal Dunia di Usia 81 Tahun, Ini Profil dan Keluarganya
Tetap Waspada Meski Kawah Terlihat Tenang
Fenomena “telur ceplok” di Gunung Anak Krakatau memang menarik perhatian karena bentuk dan warnanya tidak biasa. Meski begitu, kondisi visual dari udara sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya patokan untuk menilai aktivitas gunung api.
Badan Geologi sebelumnya menegaskan bahwa dinamika vulkanisme Anak Krakatau masih terus dipantau dan dievaluasi. Karena itu, masyarakat sebaiknya mengikuti informasi resmi dari PVMBG, Badan Geologi, BNPB, atau pemerintah daerah, terutama ketika terjadi perubahan aktivitas.
Bagi warga yang terdampak abu vulkanik, penggunaan masker ketika beraktivitas di luar rumah juga dapat membantu mengurangi paparan debu vulkanik. Yang terpenting, jangan mendekati kawasan terlarang hanya untuk melihat langsung fenomena kawah yang sedang viral.
