Viral Karnaval di Pekalongan, Kostum dan Adegan Potong Kambing Disebut Mirip Ritual Satanis

Senin 14 Sep 2026, 20:24 WIB
Simbang Kulon Night Carnival 2026 di Desa Simbang Kulon, Pekalongan, menjadi sorotan setelah penampilan peserta dinilai mengandung simbol satanis (Sumber: Instagram)
Simbang Kulon Night Carnival 2026 di Desa Simbang Kulon, Pekalongan, menjadi sorotan setelah penampilan peserta dinilai mengandung simbol satanis (Sumber: Instagram)

PEKALONGAN, POSKOTA.CO.ID - Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Desa Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, menjadi perbincangan setelah sejumlah penampilan peserta dinilai mengandung simbol iblis atau satanis.

Salah satu adegan yang menuai sorotan adalah penyembelihan kambing hidup yang dimasukkan ke dalam peti.

Karnaval yang seharusnya menjadi ruang hiburan dan kreativitas warga itu kemudian ramai dibahas di media sosial. Selain persoalan kostum dan adegan, kabar meninggalnya salah satu peserta serta dugaan pengeroyokan turut muncul dalam narasi yang beredar.

Baca Juga: Akun Instagram Anak Purbaya Yudhi Sadewa Kembali Disorot, Singgung Status Bukan Anak Menteri dan Gaji Trader

Adegan Sembelih Kambing dalam Karnaval Jadi Sorotan

Salah satu penampilan yang paling banyak diperbincangkan memperlihatkan kambing hidup dimasukkan ke dalam peti. Dalam adegan tersebut, kepala kambing yang telah terputus kemudian diangkat dengan darah yang terlihat bercucuran.

Penampilan itu memunculkan reaksi dari masyarakat karena dinilai terlalu ekstrem dan berbau satanis. Sorotan tidak hanya tertuju pada adegan, tetapi juga kostum sejumlah peserta yang dianggap menampilkan karakter iblis.

Pemerintah Desa Simbang Kulon kemudian menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan yang muncul. Pemerintah desa juga memastikan akan mengevaluasi mekanisme penyelenggaraan karnaval agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Lurah Simbang Kulon, Franky Irawan, menyebut minimnya pemahaman peserta terhadap latar belakang simbol atau kostum menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan.

“Minimnya pemahaman serta literasi peserta terhadap latar belakang simbol atau kostum yang disewa di luar daerah menjadi celah terjadinya kegaduhan,” kata Franky Irawan.

Menurutnya, penggunaan kostum maupun simbol dalam pertunjukan perlu diimbangi pemahaman yang cukup. Hal ini penting agar kreativitas peserta tidak justru menimbulkan salah tafsir di tengah masyarakat.

Peserta Berkostum Iblis Meninggal, Polisi Luruskan Narasi Viral

Di tengah ramainya pembahasan karnaval, kabar meninggalnya seorang peserta berinisial AF (40) juga ikut beredar. Peserta yang mengenakan jubah iblis tersebut disebut meninggal dunia dalam narasi yang berkembang di media sosial.

Namun, kepolisian meluruskan informasi tersebut. Kasi Humas Polres Pekalongan Kota, Iptu Purno Utomo, menjelaskan bahwa AF tidak meninggal secara mendadak ketika karnaval berlangsung.

AF disebut meninggal setelah acara selesai. Istrinya sempat mendapati napas AF tersengal-sengal sekitar pukul 04.00 WIB. Pada saat itu, belum ada dokter yang buka sehingga keluarga menghadapi kendala untuk mendapatkan pemeriksaan medis.

Penjelasan polisi ini penting agar informasi mengenai waktu dan kondisi meninggalnya peserta tidak berkembang menjadi kabar yang keliru.

Dugaan Pengeroyokan Juga Dibantah Panitia

Selain persoalan kostum dan kabar meninggalnya peserta, beredar pula dugaan aksi pengeroyokan dalam pelaksanaan SKNC 2026.

Penanggung Jawab Kontingen RT 11/RW 04 Desa Simbang Kulon, Saiful Mubarok, membantah narasi pengeroyokan yang beredar di media sosial tersebut.

Menurut Saiful, informasi yang beredar tidak sesuai dengan kejadian yang sebenarnya. Ia menegaskan bahwa narasi pengeroyokan yang ramai dibicarakan bukan gambaran yang benar mengenai peristiwa dalam karnaval.

Baca Juga: Aisar Khaled Diduga Terlibat Kasus Penipuan Apa? Sisa Kewajiban Disebut Rp5,7 Miliar, Ini Awal Persoalannya

Evaluasi Penyelenggaraan Jadi Perhatian

Rangkaian polemik SKNC 2026 menunjukkan bahwa penyelenggaraan karnaval tidak cukup hanya mengandalkan kreativitas dan kemeriahan. Pemilihan kostum, simbol, serta adegan pertunjukan juga perlu diperhatikan sejak tahap persiapan.

Pemerintah Desa Simbang Kulon telah menyampaikan permintaan maaf dan berkomitmen melakukan evaluasi. Sementara itu, klarifikasi kepolisian dan pihak kontingen diharapkan dapat membantu masyarakat memahami persoalan berdasarkan informasi yang lebih jelas.

Dengan demikian, karnaval berikutnya diharapkan bisa tetap menjadi hiburan warga tanpa memunculkan kegaduhan akibat penampilan yang menimbulkan kontroversi.


Berita Terkait


News Update