Harga Cabai Rawit Tembus Rp100 Ribu per Kg, Emak-emak Mulai Irit Bikin Sambal

Kamis 10 Sep 2026, 18:06 WIB
Cabai merah keriting, cabai rawit merah alami kenaikan harga, Kamis, 10 September 2026. (Sumber: Pos Kota/ Ali Mansur)
Cabai merah keriting, cabai rawit merah alami kenaikan harga, Kamis, 10 September 2026. (Sumber: Pos Kota/ Ali Mansur)

KEBAYORAN BARU, POSKOTA.CO.ID - Harga cabai di wilayah Jakarta dan sekitarnya melonjak tajam dalam sepekan terakhir. Di pasar tradisional, harga cabai rawit merah kini menyentuh Rp100.000 per kilogram (kg), sementara cabai keriting dijual pada kisaran Rp80.000 per kg.

Di tingkat ritel modern atau supermarket, cabai rawit merah dipatok Rp97.500 per kg dan cabai merah kering seharga Rp67.500 per kg. Kenaikan pasokan yang terbatas dari tingkat distributor disinyalir menjadi pemicu utama lonjakan harga ini.

Pedagang di Pasar Mayestik, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Ramini, 68 tahun, mengungkapkan bahwa kenaikan harga terjadi secara bertahap dalam tiga hari terakhir dari kisaran Rp80.000 hingga Rp90.000 per kg.

"Harga naik dari pemasok, barangnya juga sedang tidak banyak," ujar Ramini saat ditemui Pos Kota di lantai bawah Pasar Mayestik, Kamis, 10 September 2026.

Baca Juga: Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp110 Ribu per Kg, Sempat Setara Daging Sapi

Imbas lonjakan harga ini, Ramini memilih memangkas volume stok dagangannya demi menghindari risiko kerugian akibat pembeli yang menyusut.

Ia pun memprediksi tren harga tinggi ini masih berpotensi bertahan hingga akhir tahun jika tidak ada langkah konkret dari pembuat kebijakan.

"Harapannya ada intervensi pemerintah ke tingkat tengkulak supaya harganya bisa ditekan, syukur-syukur bisa turun," tegasnya.

Hal senada diungkapkan Deswita, 55 tahun, pedagang di Pasar Kebayoran Lama. Ia kini menjual cabai rawit merah seharga Rp95.000 per kg setelah harganya terus bergerak fluktuatif sejak pekan lalu.

Baca Juga: Jelang Imlek Harga Cabai di Bogor Makin Pedas, Rawit Merah Tembus Rp90 Ribu per Kilogram 

"Bisa jadi besok naik lagi, tergantung harga belanja saya. Sekarang yang dijual ini sisa stok kemarin," kata Deswita.

Konsumen Siasati Dapur

Tingginya harga komoditas pedas ini mulai menggerus daya beli masyarakat. Suherlina, 26 tahun, seorang ibu rumah tangga, mengaku harus memutar otak agar anggaran belanja dapurnya tidak membengkak.

Guna menyiasati kenaikan harga, Suherlina terpaksa memangkas konsumsi harian. Alokasi seperempat kilogram cabai yang biasanya dihabiskan dalam sepekan, kini dihemat untuk kebutuhan dua pekan.

"Sekarang harus pintar-pintar hemat, apalagi kebutuhan lain seperti daging ayam juga naik. Kadang cabai segar saya campur atau ganti pakai cabai bubuk," ungkapnya.

Masyarakat dan pedagang kini berharap pemerintah segera menggelar operasi pasar serta membenahi rantai distribusi guna menekan permainan harga di tingkat tengkulak.

"Kami berharap pemerintah bisa melakukan operasi pasar untuk menekan harga cabai. Cabai kan salah satu bahan masakan yang dibutuhkan masyarakat," harap Suherlina.


Berita Terkait


News Update