Tambang di Jabar Ditutup, 2.500 Dump Truk Pindah Operasi Picu Antrean Panjang di SPBU Banten

Rabu 09 Sep 2026, 21:44 WIB
Antrean truk di SPBU Tol Tangerang Merak KM 68, Rabu, 9 September 2026, malam WIB. (Sumber: Dok. Istimewa)
Antrean truk di SPBU Tol Tangerang Merak KM 68, Rabu, 9 September 2026, malam WIB. (Sumber: Dok. Istimewa)

BANTEN, POSKOTA.CO.ID - Antrean panjang truk yang berburu Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar bersubsidi memicu kemacetan parah di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) wilayah Banten.

Antrean hingga satu kilometer di bahu jalan arteri maupun Tol Tangerang-Merak tersebut marak terjadi setiap malam dalam sebulan terakhir.

Pengusaha jasa ekspedisi, Hari membeberkan antrean mengular tersebut dipicu eksodus ribuan kendaraan berat usai berlakunya kebijakan penghentian tambang di Jawa Barat (Jabar).

"Ini dampak dari keputusan penghentian sementara tambang di Jabar. Armada truk yang biasa beroperasi di sana akhirnya banyak yang pindah ke wilayah Banten," kata Hari, Rabu, 9 September 2026.

Baca Juga: Polda Banten Siapkan Pos Antemortem untuk Rombongan Jurnalis yang Hilang Kontak di Selat Sunda 

Sopir Truk Keluhkan Rugi Waktu dan Biaya

Hari memperkirakan terdapat sekitar 2.000-2.500 unit dump truck baru yang kini mengalihkan rute operasionalnya ke kawasan Serang, Cilegon, hingga Lebak.

Guna mengangkut pasir serta tanah tambang menuju wilayah Jabodetabek, lonjakan ribuan armada ini tidak diimbangi penambahan kuota pasokan harian BBM jenis solar di SPBU setempat.

"Akibatnya SPBU di Kabupaten Serang, Cilegon maupun SPBU yang ada di Tol Jakarta-Merak setiap malam terjadi antrean. Panjangnya bisa sekitar 300 meter sampai satu kilometer karena kebutuhan solar meningkat," ujarnya.

Dampak keterlambatan pasokan solar ini langsung dirasakan para sopir truk yang terpaksa membuang waktu hanya untuk sekali mengangkut material pasir.

Baca Juga: Liput Erupsi Anak Krakatau, 5 Jurnalis Banten Hilang Kontak di Selat Sunda

"Saya bisa menghabiskan waktu sampai dua hari dua malam untuk mengirim pasir teras ke Bogor. Waktunya banyak terbuang karena harus antre membeli solar," ucap Wardi, salah seorang sopir truk.

Ia berharap kuota solar dapat segera disesuaikan agar para pengemudi truk tidak terus menelan kerugian imbas habisnya ongkos operasional di perjalanan.

"Kami berharap kondisi ini segera teratasi. Kalau terus seperti ini, yang dirugikan bukan hanya pengusaha, tetapi kami para sopir juga karena waktu habis di jalan dan di SPBU," tuturnya.


Berita Terkait


News Update