"Area dengan konsentrasi tinggi dilaporkan berkurang di sejumlah bagian Jakarta Utara dan Jakarta Timur," tuturnya.
Meski begitu, beberapa wilayah masih membutuhkan perhatian, terutama Kembangan dan Kebon Jeruk, sementara perubahan konsentrasi sulfur dioksida (SO₂) belum menunjukkan perbaikan yang merata. Kondisi tersebut membuat pemantauan setiap jenis pencemar tetap diperlukan dan menjadi dasar bagi Pemprov Jakarta untuk menentukan wilayah prioritas penanganan berikutnya.
“Kami akan menggunakan hasil pemantauan untuk menentukan lokasi yang perlu diprioritaskan, sekaligus menyampaikan perkembangan kondisi udara secara terbuka. Dengan begitu, warga mengetahui apa yang sedang dilakukan pemerintah dan langkah yang perlu mereka ambil untuk melindungi keluarga,” katanya.
Evaluasi terhadap dampak penyiraman perlu mempertimbangkan faktor lain yang dapat memengaruhi kualitas udara, seperti arah dan kecepatan angin, hujan, serta sumber pencemar lainnya. Hal ini diperlukan agar perubahan kualitas udara dapat dianalisis secara lebih menyeluruh.
Pemprov Jakarta mengimbau masyarakat tetap tenang dan waspada selama kondisi udara terdampak abu vulkanik serta menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Endapan abu vulkanik di jalan maupun permukaan lainnya sebaiknya dibasahi terlebih dahulu sebelum dibersihkan agar tidak kembali beterbangan.
Baca Juga: Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, Penerbangan dari Soekarno-Hatta dan Halim Masih Lumpuh
“Keselamatan warga menjadi pegangan kami. Melalui kerja bersama lintas dinas dan pemantauan yang berkelanjutan, kami ingin memastikan respons pemerintah tetap cepat, penanganannya tepat sasaran, dan masyarakat memperoleh informasi yang mudah dipahami,” pungkasnya.
