Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Ganggu Udara Jakarta, Pemprov Kerahkan Water Mist

Senin 07 Sep 2026, 17:26 WIB
Pemprov Jakarta menangani dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau melalui operasi water mist dan penyiraman di sejumlah wilayah. (Sumber: Dok. DLH Jakarta)
Pemprov Jakarta menangani dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau melalui operasi water mist dan penyiraman di sejumlah wilayah. (Sumber: Dok. DLH Jakarta)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta bergerak menangani dampak abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Penanganan dilakukan melalui operasi water mist dan penyiraman di sejumlah wilayah untuk menekan penyebaran partikulat di udara.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) mengerahkan puluhan kendaraan pemadam kebakaran, truk tangki air, dan unit water mist mobile. Operasi tersebut dilakukan secara lintas dinas dengan melibatkan Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta Dinas Pertamanan dan Hutan Kota.

"Pemantauan kualitas udara pada 6-7 September 2026 menunjukkan adanya indikasi perbaikan sebaran partikulat setelah dilakukan penyiraman. Perubahan paling terlihat terjadi pada sebaran partikel PM10 yang sebelumnya terpantau tinggi di sejumlah wilayah Jakarta," kata Kepala DLH Jakarta, Dudi Gardesi dalam keterangannya, Senin, 7 September 2026.

Menurut Dudi, langkah penanganan di lapangan dipadukan dengan pemantauan kualitas udara untuk melihat perkembangan kondisi setelah penyiraman. Ia mengatakan perlindungan warga menjadi tujuan utama dalam operasi penanganan abu vulkanik tersebut.

Baca Juga: Erupsi Strombolian Gunung Anak Krakatau Seberapa Berbahaya? Kenali Ciri dan Material Lontarannya

"Petugas bergerak melakukan penyiraman, sementara kondisi udara terus dipantau agar langkah perlindungan warga dapat disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan,” ujarnya.

Berdasarkan laporan pemantauan, sebaran PM10 dengan konsentrasi tinggi yang sebelumnya cukup luas di Jakarta Pusat, Jakarta Timur, dan Jakarta Selatan menjadi lebih terbatas setelah penyiraman. Area PM10 tinggi pascapenyiraman teridentifikasi di Cilincing bagian timur dan Cipayung bagian tenggara, sedangkan PM10 merupakan partikulat kecil yang dapat terhirup dan masuk ke saluran pernapasan.

“Penyempitan sebaran PM10 tinggi merupakan perkembangan yang menggembirakan. Data ini sekaligus membantu kami mengenali wilayah yang masih membutuhkan perhatian, sehingga penanganan berikutnya dapat lebih terarah,” ucapnya.

Ia menyebutkan, penyiraman dilakukan untuk membasahi abu vulkanik yang telah mengendap di jalan maupun permukaan lainnya. Abu yang dalam kondisi kering dapat kembali beterbangan akibat hembusan angin maupun pergerakan kendaraan.

Baca Juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau Picu Penerbangan Batal, Puluhan Jemaah Umrah Bengkulu Tertahan

Dengan membasahi endapan abu, partikel tersebut diharapkan tidak mudah kembali terangkat ke udara sekaligus lebih mudah dibersihkan, sesuai panduan penanganan abu vulkanik yang dipublikasikan United States Geological Survey (USGS). Selain PM10, pemantauan juga menunjukkan adanya perubahan pada sebaran PM2.5.


Berita Terkait


News Update