JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Sebaran abu vulkanik dampak erupsi Gunung Anak Krakatau meluas signifikan hingga menjangkau wilayah Samudra Hindia, Senin, 7 September 2026, pagi. Fenomena geologi ini memicu penghentian operasional delapan bandara udara guna menjamin keselamatan penerbangan.
Pergerakan material abu terdeteksi membumbung hingga ketinggian 50.000 kaki atau sekitar 15,24 km di atas permukaan laut. Dorongan angin kencang di berbagai lapisan atmosfer membuat paparan debu menyelimuti wilayah Banten, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu.
"Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 pukul 09.00 WIB, pola angin secara umum mendorong perluasan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau ke arah barat," kata Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani dalam keterangannya, Senin, 7 Mei 2026.
BMKG Deteksi Indikasi Abu di Jalur Udara
Hasil pengujian paper test pada sejumlah landasan udara mengonfirmasi keberadaan endapan partikel mikro vulkanik yang membahayakan mesin pesawat.
Baca Juga: Gunung Api Erupsi Bersamaan Hari Ini, Cek Level Aktivitas dan Cara Pantau Real Time
Atas temuan tersebut, otoritas penerbangan memutuskan menutup operasional Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Husein Sastranegara, Radin Inten II, Budiarto Curug, Pondok Cabe, M. Taufiq Kiemas, serta Atungbusu.
Meskipun sebaran debu meluas di udara, BMKG memastikan jalur penyeberangan laut di Selat Sunda masih berada dalam kondisi aman untuk dilintasi.
Hasil pemantauan HF Radar Array dan puluhan tsunami gauge menunjukkan gelombang laut tetap normal tanpa ada indikasi potensi tsunami.
"Masyarakat tidak perlu panik. Langkah penutupan sementara delapan bandara ini merupakan bentuk mitigasi proaktif dan respons cepat otoritas penerbangan demi menjamin keselamatan perjalanan kita bersama," ujarnya.
