Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Menyebar ke Mana Saja? Ini Sebaran Terbarunya Hari Ini 6 September 2026

Minggu 06 Sep 2026, 13:38 WIB
Erupsi Gunung Anak Krakatau menyebabkan abu vulkanik menyebar hingga sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra. (Sumber: X/@haixensen)
Erupsi Gunung Anak Krakatau menyebabkan abu vulkanik menyebar hingga sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra. (Sumber: X/@haixensen)

POSKOTA.CO.ID - Erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak Jumat, 4 September 2026, menyebabkan sebaran abu vulkanik meluas ke sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra.

Material vulkanik tersebut keluar saat erupsi kemudian terbawa oleh pergerakan angin di atmosfer.

Kondisi tersebut membuat abu vulkanik menyebar hingga wilayah yang berada cukup jauh dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Luas dan arah sebaran pun tidak selalu sama karena sangat bergantung pada kondisi atmosfer, terutama arah serta kecepatan angin pada ketinggian tertentu.

Sejumlah laporan mengenai keberadaan abu vulkanik sendiri bermunculan dari beberapa wilayah yang berada jauh dari Gunung Anak Krakatau.

Kondisi tersebut membuat pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dilakukan oleh sejumlah lembaga pemerintah.

Informasi mengenai perkembangan erupsi dan sebaran abu diperlukan untuk mengetahui wilayah mana saja yang berpotensi terdampak serta bagaimana arah pergerakan material vulkanik tersebut.

Lantas, ke mana saja abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebar pada Minggu, 6 September 2026?

Wilayah mana yang berada dalam jalur sebaran abu dan bagaimana arah pergerakannya berdasarkan pemantauan terbaru? Simak informasi selengkapnya berikut ini.

Baca Juga: Abu Gunung Anak Krakatau Jangkau Jakarta, DLH DKI Minta Warga Batasi Aktivitas Luar

Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Menyebar ke Mana Saja?

Berdasarkan pemantauan gabungan lintas lembaga, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau telah terpantau menuju sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menjelaskan bahwa arah pergerakan abu vulkanik sangat bergantung pada kondisi meteorologi.

Angin pada ketinggian yang berbeda dapat membawa material erupsi menuju arah yang berbeda pula.

"Jadi arah sebaran abu ini sangat dipengaruhi oleh arah dan kecepatan angin pada berbagai ketinggian. Tinggi kolom erupsi, durasi erupsi, dan jumlah material yang dikeluarkan sangat mempengaruhi arah sebaran abu tersebut. Oleh sebab itu, arah sebaran abu dapat berubah dalam waktu relatif singkat dan harus diperbarui berdasarkan kondisi meteorologi terkini," ujar Lana Saria, pada Minggu, 6 September 2026.

Berikut adalah beberapa sebaran abu vulkanik anak Gunung Krakatau hingga Minggu, 6 September 2026.

1. Sebaran Abu ke Arah Jakarta, Banten dan Jawa Barat

Salah satu jalur sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau mengarah ke kawasan timur.

Jalur tersebut mencakup sebagian wilayah Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat.

BMKG mencatat sebaran abu dari permukaan hingga ketinggian sekitar 20.000 kaki di atmosfer.

Pergerakan material vulkanik tersebut dipengaruhi oleh kondisi angin pada lapisan atmosfer yang dilaluinya.

"Sebaran dari permukaan hingga ketinggian 20.000 ft teramati ke arah Timur Laut-selatan, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat serta perairan sekitarnya," tulis pihak BMKG.

Sebaran abu tersebut juga menjadi perhatian masyarakat di kawasan Jabodetabek.

Sejumlah warga melalui media sosial melaporkan adanya abu tipis yang terlihat di beberapa lokasi.

Meski demikian, intensitas dan ketebalan abu yang dirasakan masyarakat dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh arah angin, konsentrasi material di atmosfer, serta kondisi cuaca di masing-masing daerah.

Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau juga berdampak terhadap aktivitas penerbangan.

Baca Juga: Polri Tetapkan 112 Tersangka Kasus Karhutla, Mayoritas Perorangan dan Belum Ada Korporasi

2. Sebaran Abu Bergerak ke Lampung hingga Bengkulu

Selain bergerak ke arah timur, abu vulkanik Gunung Anak Krakatau juga terpantau menuju arah barat daya hingga barat laut.

Jalur sebaran tersebut mencakup sebagian wilayah Lampung hingga Bengkulu.

Pada jalur ini, abu vulkanik terpantau dari permukaan hingga ketinggian sekitar 50.000 kaki.

Wilayah yang masuk dalam cakupan sebaran juga meliputi sebagian Banten, kawasan perairan Selat Sunda bagian selatan hingga Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung dan Banten.

"Mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung dan Banten," tulis pihak BMKG.

Pergerakan menuju wilayah Sumatra tersebut membuat masyarakat di sejumlah daerah perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan paparan abu vulkanik di lingkungan sekitar.

3. Sebaran Abu Vulkanik di Bandara

Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau turut berdampak pada operasional sejumlah bandara.

Sebanyak empat bandara mengalami penutupan sementara sebagai langkah antisipasi untuk menjaga keselamatan penerbangan.

Keempat bandara tersebut yakni Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Radin Inten II Lampung dan Bandara Budiarto Curug.

Penutupan dilakukan pada waktu yang berbeda sesuai dengan kondisi sebaran abu vulkanik dan hasil pemantauan di masing-masing wilayah. Langkah tersebut diambil untuk mengantisipasi risiko yang dapat muncul akibat keberadaan abu vulkanik di ruang udara.

"Bandara Soekarno-Hatta ditutup pada pukul 02.08-13.30 WIB, Bandara Halim Perdanakusuma ditutup pada pukul 07.20-14.00 WIB, Bandara Radin Inten II Lampung (TKG) pada pukul 04.18-10.00 WIB, sedangkan Bandara Budiarto Curug (RTO) ditutup pada pukul 06.48-09.30 WIB," kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan.

Penutupan sementara tersebut merupakan bagian dari langkah keselamatan penerbangan menyusul terdeteksinya sebaran abu vulkanik di ruang udara.

Status operasional masing-masing bandara dapat berubah mengikuti perkembangan sebaran abu, kondisi ruang udara dan hasil pemantauan keselamatan penerbangan.


Berita Terkait


News Update