Sebaran Abu Erupsi Anak Krakatau Capai Jabodetabek, Pakar Minta Warga Waspadai Bahaya Silika

Minggu 06 Sep 2026, 14:35 WIB
Ilustrasi erupsi Gunung Anak Krakatau. (Sumber: Pixabay/Wolfgang_Hasselmann)
Ilustrasi erupsi Gunung Anak Krakatau. (Sumber: Pixabay/Wolfgang_Hasselmann)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Fenomena semburan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda dilaporkan menjangkau wilayah Kawasan Metropolitan Jabodetabek.

Pengamat Lingkungan, Prof. Supriatna menjelaskan, sebaran material erupsi tersebut disebabkan karakter Anak Krakatau yang tergolong sebagai gunung api tipe strato. Gunung jenis ini memiliki karakteristik letusan efusif dan eksplosif yang mampu memuntahkan material piroklastik berupa debu dan abu halus hingga ketinggian berpuluh-puluh kilometer ke udara.

"Fenomena ini biasa terjadi pada tipe gunung api strato yang memuntahkan piroklastik sampai puluhan kilometer. Ditambah dengan dorongan arah angin, abu vulkanik dapat menyebar sangat jauh dari pusat erupsi," kata Supriatna kepada Poskota, Minggu, 6 September 2026.

Bahaya Partikel Silika bagi Kesehatan

Supriatna menambahkan, partikel abu vulkanik mengandung berbagai senyawa kimia berbahaya seperti asam dan kristal silika mikroskopis. Kandungan tersebut dapat memicu iritasi berat pada organ pernapasan, jaringan mata, hingga kesehatan kulit jika terpapar secara langsung tanpa pelindung.

Baca Juga: Bandara Soetta Ditutup Sampai Jam Berapa Hari Ini? Simak Update Terbarunya Imbas Erupsi Anak Krakatau

Durasi berhentinya hujan abu sepenuhnya bergantung pada dinamika tingkat aktivitas magma di dalam perut gunung api itu sendiri. Saat letusan Gunung Tambora, jangkauan material abu mampu terbang hingga menyeberangi benua menuju Australia.

Guna meminimalkan dampak buruk partikel asam dan silika tersebut, masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan serta selalu mengenakan masker pelindung wajah dan kacamata saat beraktivitas di area terbuka.

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau tercatat masih berlangsung hingga hari ini, Minggu, 6 September 2026. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM melaporkan, getaran erupsi berkali-kali terekam di instrumen seismograf.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi adanya dua klaster utama sebaran abu vulkanik. Sebaran abu membumbung hingga ketinggian 20.000 kaki dan bergerak melingkupi wilayah Lampung, Banten, Jawa Barat, hingga sebagian wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Hingga kini, status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih dipertahankan pada Level III (Siaga). PVMBG dan Badan Geologi secara tegas melarang masyarakat, wisatawan, maupun nelayan untuk mendekati atau beraktivitas dalam radius bahaya 3 km dari kawah aktif Selat Sunda.


Berita Terkait


News Update