PATI, POSKOTA.CO.ID - Kemarau panjang mulai menunjukkan dampaknya di sejumlah wilayah Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Salah satu yang paling terlihat terjadi di Sungai Juwana.
Air sungai menyusut drastis hingga bagian dasar Bendung Karet terlihat, sementara jutaan ikan sapu-sapu ditemukan mati.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Sungai Juwana selama ini memiliki peran penting bagi lingkungan dan aktivitas masyarakat di sekitarnya. Saat debit air terus menurun, kehidupan ikan di sungai ikut terdampak.
Baca Juga: 836.258 Jiwa Terima Manfaat dari Rumah Yatim, Tersebar di 21 Provinsi Sepanjang 2025
Sungai Juwana Mengering, Ikan Sapu-Sapu Bergelimpangan
Melansir dari akun X @jateng_twit Kemunculan ikan sapu-sapu dalam jumlah besar sebenarnya bukan hal baru di sejumlah perairan. Ikan ini dikenal cukup kuat beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dan mampu bertahan dalam kondisi perairan yang kurang ideal.
Namun, ketika air sungai terus menyusut akibat kemarau ekstrem, kemampuan bertahan tersebut tetap memiliki batas. Air yang semakin dangkal membuat ruang hidup ikan berkurang. Kondisi kualitas air juga dapat berubah ketika debit sungai turun secara signifikan.
Matinya ikan sapu-sapu di Sungai Juwana akhirnya menjadi salah satu tanda nyata bagaimana kekeringan tidak hanya berdampak kepada manusia, tetapi juga ekosistem perairan.
"Airnya terus menyusut sampai dasar bendung terlihat," menjadi gambaran kondisi Sungai Juwana yang kini mengalami tekanan akibat berkurangnya pasokan air.
Kemarau Panjang Ikut Mengancam Irigasi Pertanian
Persoalan yang muncul tidak berhenti pada matinya ikan. Sungai Juwana juga berkaitan dengan kebutuhan air bagi masyarakat, terutama petani yang mengandalkan aliran sungai untuk mendukung kegiatan pertanian.
Ketika debit air turun terlalu rendah, pasokan untuk irigasi otomatis ikut terancam. Petani harus menghadapi kondisi yang lebih sulit karena kebutuhan tanaman terhadap air tetap berjalan meski hujan belum kunjung turun.
Situasi ini membuat kekeringan di Pati perlu dilihat lebih luas. Sungai yang surut bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga berkaitan dengan ketahanan pertanian dan kebutuhan masyarakat.
