POSKOTA.CO.ID - Identitas pemilik SPPG Kalitengah di Sidoarjo, Jawa Timur menjadi sorotan publik setelah ratusan santri Ponpes Manba'ul Hikam diduga keracunan MBG pada Selasa, 1 September 2026.
Kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami sekitar 431 santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manba'ul Hikam, Sidoarjo, Jawa Timur kini ramai diperbincangkan publik.
Ratusan santri tersebut diduga mengalami sejumlah gejala keracunan, seperti mual dan muntah hingga harus dilarikan ke rumah sakit setelah mengonsumsi MBG yang didistribusikan SPPG Kalitengah.
Selain santri Ponpes Manba'ul Hikam, sejumlah siswa dari berbagai lembaga pendidikan di Sidoarjo, mulai dari TK, SD, SMP, hingga SMA Swasta juga mengalami kasus serupa.
Kasus dugaan keracunan MBG di Sidoarjo ini langsung menyita perhatian publik karena jumlah korban yang mencapai ratusan orang.
Di tengah proses penyelidikan yang masih berlangsung dan didalami oleh pihak berwenang, publik dibuat penasaran dengan sosok pemilik dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah yang memasok makanan tersebut.
Siapa Pemilik SPPG Kalitengah Sidoarjo?
Sampai saat ini, masih belum diketahui dengan pasti siapa sosok pemilik dapur SPPG Kalitengah Sidoarjo yang diduga sebagian ratusan santri keracunan.
Namun, berdasarkan informasi yang beredar, Koordinator atau Kepala SPPG Kalitengah bernama Gerico, sedangkan pemiliknya adalah seseorang berinisial HR.
Meski demikian, kepastian mengenai siapa pemilik dan pengelola SPPG tersebut perlu menunggu konfirmasi atau pengumuman resmi pihak terkait.
SPPG Kalitengah Ditutup Sementara
Buntut kasus keracunan yang terjadi di belasan sekolah di Sidoarjo, Jawa Timur, SPPG Kalitengah kini disuspend atau ditutup sementara.
Pihak Badan Gizi Nasional (BGN) regional Jawa Timur memutuskan untuk menghentikan sementara seluruh kegiatan operasional dapur SPPG yang terletak di Jalan Raya Tanggulangin Nomor 5, Kedunganten, Desa Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo itu.
Keputusan tersebut diambil setelah sejumlah santri dan siswa dari berbagai sekolah mengalami keracunan karena makanan yang didistribusikan dapur tersebut.
Untuk saat ini, SPPG berhenti operasional, dan surat suspend sementara sudah turun,” kata Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo.
Teguh mengungkapkan bahwa setiap harinya, SPPG Kalitengah bertanggung jawab memasok sebayak 2.800 porsi MBG ke berbagai sekolah dan pesantren.
Baca Juga: Diduga Sampah Sisa MBG Dibuang ke Sungai, Warga Minta Pelaku Ditindak Tegas
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.000 porsi makanan didistribusikan untuk para santri yang ada di Pondok Pesantren Manba'ul Hikam, Sidoarjo.
“Untuk hari ini 2.800. Sekolah dan pesantren. Di pesantren itu ada sekitar 1.000-an, sisanya di luar pesantren, di sekolah,” ujarnya.
Teguh menyebut bahwa Dinas Kesehatan Sidoarjo telah mengambil sampel makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan massal MBG di Sidoarjo.
Hasil pemeriksaan tersebut nantinya akan menjadi salah satu dasar evaluasi untuk menentukan langkah selanjutnya terhadap operasional SPPG Kalitengah.
“Selanjutnya, hasil lab dan lain-lain kita tunggu untuk satu minggu ke depan ya, untuk mengetahui uji hasil lab,” tuturnya.
Kronologi Dugaan Keracunan Santri Ponpes Sidoarjo
Awal mula dugaan santri keracunan MBG di Ponpes Manba'ul Hikam, Sidoarjo, Jawa Timur ini terjadi usai para santri menyantap makanan bergizi gratis pada saat makan siang.
Adapun, makanan tersebut diketahui tiba di pesantren sekitar pukul 11.30 WIB untuk dikonsumsi oleh 1.000 santri dari tingkat SMP/MTS hingga SMA/MA yang ada di sana.
Setelah itu, para santri mulai mengonsumsi makanan tersebut secara bersamaan sekitar pukul 13.00 WIB. Menu yang disajikan, yaitu nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, tumis buncis baby corn, dan apel.
Beberapa jam setelah mengonsumsi makanan tersebut, sekitar pukul 16.20 WIB, sejumlah santri mulai mengalami gejala seperti mual dan muntah.
Para santri lalu melapor ke UKS untuk mendapatkan penanganan, namun karena jumlah santri yang mengalami gejala serupa terus bertambah, akhirnya pihak Pesantren Manba'ul Hikam langsung merujuk para santri ke berbagai rumah sakit.
