POSKOTA.CO.ID - Kemarau 2026 perlu dihadapi dengan kesiapsiagaan, bukan kepanikan. Alasannya, kondisi musim kemarau di Indonesia tidak berlangsung seragam. Ada daerah yang lebih cepat memasuki periode kering, sementara wilayah lain masih berpeluang mendapatkan hujan lokal.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026, sementara sebagian wilayah lainnya mencapai puncaknya pada Juli atau September. Pada pembaruan Juni, BMKG juga memperkirakan 482 Zona Musim atau sekitar 56,18 persen luas daratan Indonesia mengalami musim kemarau dengan curah hujan kategori bawah normal atau lebih kering dari biasanya.
Memasuki Agustus, kondisi tersebut semakin terlihat. BMKG mencatat 535 Zona Musim atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah mengalami musim kemarau pada Dasarian I Agustus. Curah hujan rendah juga mendominasi 90,79 persen wilayah.
Karena itu, pembahasan mengenai kekeringan 2026 sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan kapan musim kemarau mencapai puncaknya. Hal yang lebih penting adalah bagaimana rumah tangga, petani, dan masyarakat di wilayah rawan dapat menyiapkan kebutuhan air sebelum kondisinya benar-benar sulit.
Baca Juga: El Nino Picu Kemarau Ekstrim, BMKG Peringatkan Warga Jakarta Waspada Kebakaran dan Krisis Air Bersih
Risiko: Mengapa Kekeringan 2026 Perlu Diantisipasi?
Risiko utama selama kemarau panjang tentu berkaitan dengan ketersediaan air. Sumur dapat mengalami penurunan debit, sumber mata air berkurang, sementara kebutuhan masyarakat tetap berjalan seperti biasa.
Situasi tersebut dapat semakin berat ketika hari tanpa hujan berlangsung panjang. BMKG pada akhir Juli 2026 mencatat sejumlah wilayah mengalami periode hari tanpa hujan, bahkan terdapat lokasi yang mencapai 80 hari tanpa hujan.
Pengaruhnya tidak hanya dirasakan rumah tangga. Pertanian menjadi sektor yang cukup sensitif karena tanaman membutuhkan pasokan air pada fase pertumbuhan tertentu. Jika air irigasi terbatas, petani perlu menyesuaikan pola tanam dan memilih tanaman yang lebih sesuai dengan kondisi lahan.
Risiko lain yang tidak boleh diabaikan adalah kebakaran hutan dan lahan. Vegetasi yang mengering membuat api lebih mudah menyebar. Karena itu, membakar sampah, jerami, atau membuka lahan dengan pembakaran bukan pilihan yang aman selama kondisi kering.
BMKG juga menyebut perkembangan El Niño 2026 telah mencapai intensitas sangat kuat. Fenomena tersebut diperkirakan bertahan hingga awal 2027 dan berpotensi memperbesar risiko kekeringan.
“Kesiapsiagaan perlu dilakukan sejak awal, terutama pada wilayah yang diprediksi mengalami kondisi lebih kering dari biasanya.”
