Walaupun bencana kebakaran hutan sering terjadi saat musim kemarau, namun faktor utama yang seringkali menjadi pemicunya adalah kelalaian manusia, baik secara sengaja atau tidak sengaja.
Berikut ini beberapa aktivis manusia yang dilengkapi menyebabkan bencana kebakaran hutan dan lahan.
- Pembakaran lahan dengan tidak terkendali untuk membuka lahan menjadi kebun sawit, karet, atau pertanian lainnya.
- Membuang puntung rokok sembarangan di area hutan.
- Membakar sampah di dekat area sekitar hutan.
Wilayah Rawan Kebakaran Hutan di Indonesia
Peristiwa kebakaran hutan dan lahan di Indonesia umumnya sering terjadi di wilayah ekosistem tanah gambut, seperti yang banyak ditemukan di Kalimantan dan Sumatera.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan tanah Gambut memiliki kandungan bahan organik dan sisa tumbuhan di bawah permukaannya yang terbentuk dalam waktu lama.
Hal ini lah yang membuat kebakaran lahan gambut sulit terdeteksi dan berpotensi menghasilkan asap tebal. Apalagi, api kebakaran di lahan gambut dapat merambut lewat rongga-rongga di bawah tanah.
Sebanyak enam provinsi di Indonesia pada tahun ini tercatat sebagai wilayah paling rawan kebakaran hutan. Keenamnya, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.
Bagaimana Mencegah Karhutla saat Musim Kemarau?
Dirangkum dari website resmi Kementerian Lingkungan Hidup, untuk mencegah terjadinya kembali karhutla di sejumlah daerah rawan kebakaran hutan setiap tahunnya, harus dilakukan berbagai persiapan sebelum kebakaran terjadi.
Berbagai hal yang perlu dipersiapkan pemerintah sejak dini, mulai dari peralatan pemadaman, personel terlatih, termasuk memetakan wilayah rawan karhutla.
Sementara itu, dihimpun dari situs BPBD Kabupaten Lima Puluh Kota, berikut ini beberapa tindakan pencegahan untuk menanggulangi kebakaran hutan,
- Memetakan wilayah rawan kebakaran hutan
- Tidak membuka lahan atau perkebunan dengan cara membakar hutan
- Tidak membuang puntung rokok sembarangan, terutama di area hutan
- Tidak meninggalkan api unggun dalam hutan
- Melakukan patroli hutan secara berkala untuk mengecek kondisi hutan.
- Melakukan pemotretan citra secara berkala terutama di wilayah dengan titik api yang tinggi.
- Menyediakan mobil pemadam kebakaran yang siap untuk digunakan.
- Apabila terjadi kebakaran hutan berskala kecil, maka lakukan penyemprotan secara langsung ke daerah yang terbakar.
- Jika kebakaran terjadi dalam skala besar, maka lakukan penyemprotan air dari udara menggunakan helikopter juga membuat hujan buatan.
