POSKOTA.CO.ID - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih berlangsung di sejumlah wilayah di Kalimantan saat musim kemarau menyita perhatian publik.
Selain Kalimantan, sejumlah daerah lainnya di Indonesia, seperti Sumatera, Jambi, Riau, hingga Papua juga dilanda kebakaran hutan saat ini.
Berdasarkan data per Selasa, 25 Agustus 2026, tercatat sebanyak 4.782 titik panas atau hotspot terdeteksi di sejumlah wilayah Indonesia. Kalimantan menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak hingga 3.391 titik, disusul Sumatera dengan 1.072 hotspot.
Baca Juga: Kebakaran Hutan di Kalimantan Meluas, Apakah Sekolah PJJ? Begini Ketentuannya
Peristiwa kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia bukan yang pertama kalinya terjadi. Karhutla di musim kemarau hampir selalu berlangsung setiap tahun.
Lantas, apa sebenarnya yang membuat rawannya kasus kebakaran hutan di berbagai wilayah Indonesia ketika musim kemarau tiba?
Apa Penyebab Sering Terjadi Kebakaran Hutan saat Musim Kemarau?
Melansir dari laman resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lima Puluh Kota, kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia secara umum disebabkan oleh dua faktor, yaitu alam dan manusia.
Di Indonesia, insiden kebakaran hutan dan lahan yang terjadi secara berulang layaknya agenda tahunan sebenarnya lebih banyak disebabkan oleh faktor manusia, baik yang dilakukan secara sengaja, maupun tidak sengaja.
Berikut ini beberapa hal yang menjadi penyebab karhutla di Indonesia berdasarkan faktor alam dan faktor kelalaian manusia.
Baca Juga: Kebakaran Hutan di Kalimantan Meluas, Apakah Sekolah PJJ? Begini Ketentuannya
1. Karhutla Disebabkan Alam
Masih mengutip dari sumber yang sama, peristiwa kebakaran hutan yang disebabkan oleh alam umumnya tidak berlangsung lama dan tidak menimbulkan dampak luas. Karhutla yang dipicu faktor alam biasanya dapat terjadi karena beberapa hal berikut ini:
- musim kemarau panjang: dapat mengakibatkan naiknya suhu di berbagai wilayah hutan yang bisa memicu kebakaran hutan dan lahan
- sambaran petir: perubahan iklim akibat pemanasan global berpotensi membuat sambaran petir lebih sering terjadi
- aktivitas vulkanis: hutan di dekat gunung berapi dapat terjadi saat aktivitas vulkanis berlangsung
- ground fire: kebakaran yang terjadi saat musim kemarau di dalam lapisan tanah, umumnya tanah gambut.
