Indonesia Punya Peluang Bangun Rantai Nilai Baterai
Indonesia saat ini memiliki sejumlah modal untuk memperkuat posisi dalam rantai nilai industri baterai global. Potensi tersebut mencakup ketersediaan sumber daya mineral, perkembangan manufaktur, pertumbuhan kendaraan listrik, potensi energi terbarukan, dan besarnya pasar domestik.
Meski demikian, pengembangan industri tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas manufaktur. Indonesia perlu membangun ekosistem yang menghubungkan berbagai tahapan, mulai dari bahan baku, teknologi, manufaktur, infrastruktur, penyimpanan energi, kendaraan listrik, hingga proses daur ulang dan circular economy.
Di sisi lain, penguatan sumber daya manusia dan riset juga menjadi bagian penting. Indonesia tidak hanya dituntut mampu mengadopsi teknologi baterai yang berkembang secara global, tetapi juga perlu meningkatkan kemampuan untuk melakukan inovasi dan mengembangkan teknologi secara mandiri.
Baca Juga: Lewat wondrX 2026, BNI dan BI Perkuat Pelindungan Konsumen dari Ancaman Kejahatan Siber
IBS 2026 Jadi Ruang Belajar bagi Indonesia
Kehadiran berbagai pelaku industri dan pemangku kepentingan dari mancanegara dalam IBS 2026 memberikan peluang bagi Indonesia untuk mempelajari pengalaman negara maupun perusahaan yang telah lebih dahulu mengembangkan industri baterai, kendaraan listrik, energi terbarukan, dan sistem penyimpanan energi dalam skala besar.
Forum tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat koneksi antara pemerintah, akademisi, industri, lembaga riset, dan pelaku teknologi.
IBS 2026 selanjutnya menjadi bagian dari rangkaian menuju The Battery Show Indonesia, yang merupakan bagian dari Energy Week dalam Indonesia Energy & Engineering, IEE Series pada 2–5 September 2026.
Melalui kesinambungan antara riset, pendidikan, industri, teknologi, dan kolaborasi internasional, Indonesia memiliki peluang untuk membangun ekosistem baterai yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga mampu menciptakan inovasi dan nilai tambah di sepanjang rantai industri.
