Oleh : Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID – Prihatin, korupsi menerpa dunia kampus , terlebih melibatkan petinggi perguruan tinggi negeri.
Banyak pihak menyayangkan, kampus yang berperan mencetak kader bangsa berkualitas dan berintegritas diteladani oleh petinggi perguruan tinggi dengan nilai - nilai yang mengabaikan etika dan moralitas.
Dugaan korupsi ini terjadi saat penerimaan mahasiswa baru membuka gerbang masuk kampus, gapura cita – cita masa depan bangsa.
Seperti diberitakan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan enam tersangka dalam kasus dugaan korupsi berupa pemerasan, penerimaan dan gratifikasi dalam penerimaan mahasiswa baru di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Keprihatinan di Tengah Gelora Peringatan Kemerdekaan
Tiga tersangka dari internal Unsoed, yakni rektor, wakil rektor III Bidang Kemahasiswaan dan kepala bidang akademik. Tiga lainnya dari swasta, sebagai perantara.
“Baru masuk kampus sudah dipungut biaya tambahan, di luar biaya yang wajib dibayarkan seperti uang kuliah dan iuran pengembangan institusi,” ujar bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
“Yang namanya pungutan di luar biaya resmi tentu sangat memberatkan bagi calon mahasiswa baru. Tak heran jika KPK menyebutnya sebagai pemerasan,” tambah Yudi.
“Tak ubahnya petinggi kampus tersebut mengajarkan pungli dan korupsi kepada calon mahasiswa baru. Ini disayangkan,” kata Heri.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Pantun Ketua MPR, Mari Bersatu Jangan Saling Hujat
“Semestinya petinggi kampus memberi keteladanan kebaikan, bukan keburukan. Ruang pendidikan sebagaimana dunia kampus tentu saja tidak saja mengajarkan tentang ilmu pengetahuun,juga penanaman nilai – nilai luhur budaya dan pembentukan karakter bangsa,” jelas mas Bro.
“Bicara pembentukan karakter berarti tak lepas dari menanamkan nilai – nilai integritas, etika dan moralitas.Termasuk di dalamnya penguatan antikorupsi dan rasa nasionalisme,” tambah mas Bro.
“Ini sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, di mana dharma yang pertama, pendidikan dan pengajaran yang dilakukan untuk menghasilkan lulusan yang cerdas, profesional, berkompeten dan berkarakter,” urai Heri.
“Itulah sebabnya, dunia pendidikan di semua tingkatan diharapkan mampu mencetak kelulusan yang tak hanya memiliki kecerdasan intelektual, juga kecerdasan moral dan spiritual menuju Indonesia Emas,” harap mas Bro.
“Kembali ke soal dugaan korupsi pada penerimaan calon mahasiswa baru, menurut kalian gimana agar tidak terjadi lagi?” tanya Yudi.
“Menutup peluang, di antaranya dengan meniadakan penerimaan calon mahasiswa baru melalui jalur mandiri. Negara wajib hadir memenuhi seluruh kebutuhan finansial perguruan tinggi negeri,” kata mas Bro.
