POSKOTA.CO.ID - Kenapa kualitas udara memburuk saat musim kemarau menjadi pertanyaan yang penting untuk diketahui masyarakat saat ini.
Musim kemarau 2026 sendiri diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September.
Periode ini perlu menjadi perhatian karena kondisi udara di sejumlah wilayah berpotensi mengalami penurunan kualitas, terutama ketika berbagai sumber polusi muncul secara bersamaan.
Meski demikian, musim kemarau bukan satu-satunya faktor yang menentukan kualitas udara.
Karena itu, masyarakat perlu lebih memperhatikan informasi kualitas udara, terutama ketika cuaca sedang panas dan kering.
Pemantauan dapat membantu menentukan kapan aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi, khususnya bagi kelompok yang lebih rentan terhadap paparan polusi.
Lantas, kenapa kualitas udara dapat memburuk saat musim kemarau dan apa saja faktor yang memengaruhinya?
Baca Juga: Jadwal Persib Bandung vs Manila Digger ACL 2, Simak Tanggal Main dan Lokasi Pertandingan
Kenapa Kualitas Udara Memburuk Saat Musim Kemarau?
Berikut penjelasan mengenai sejumlah penyebab yang perlu diketahui masyarakat agar lebih waspada menghadapi kondisi udara selama musim kemarau.
1. Minim Hujan
Salah satu faktor utama yang dapat memengaruhi kualitas udara selama musim kemarau adalah minimnya hujan.
Air hujan secara alami membantu mengurangi sebagian debu dan partikel yang berada di atmosfer.
Ketika hujan turun, partikel-partikel tersebut dapat terbawa ke permukaan melalui proses yang sering disebut sebagai pencucian atmosfer.
Sebaliknya, ketika hujan jarang turun dalam waktu cukup lama, proses tersebut tidak berlangsung secara optimal.
Akibatnya, debu dan polutan dari berbagai sumber dapat lebih lama berada di lingkungan.
Kondisi ini dapat semakin terasa di kawasan perkotaan yang memiliki aktivitas kendaraan dan kegiatan industri cukup tinggi.
Polutan yang dihasilkan dari aktivitas tersebut dapat terakumulasi ketika tidak ada hujan yang membantu membersihkan udara.
2. Tanah Kering
Musim kemarau membuat kadar air di dalam tanah berkurang. Permukaan tanah yang sebelumnya lembap dapat berubah menjadi kering, bahkan retak di sejumlah wilayah.
Tanah yang kering lebih mudah terlepas menjadi partikel debu ketika tertiup angin atau terkena aktivitas manusia.
Kendaraan yang melintas di jalan berdebu juga dapat mengangkat partikel tersebut ke udara.
Sebagian partikel berukuran sangat kecil dapat melayang di udara dan terhirup oleh manusia.
Salah satu jenis yang perlu diperhatikan adalah PM2.5, yakni partikel berukuran sangat kecil yang dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk pembakaran dan debu.
Semakin banyak debu dan partikel yang berada di udara, semakin besar pula potensi penurunan kualitas udara di suatu wilayah.
3. Kelembapan Udara yang Rendah
Musim kemarau umumnya ditandai dengan kondisi udara yang lebih kering di sejumlah wilayah.
Kelembapan yang rendah dapat membuat debu lebih mudah beterbangan dan bertahan di lingkungan.
Kondisi udara yang kering juga dapat membuat saluran pernapasan terasa lebih tidak nyaman bagi sebagian orang.
Ketika udara mengandung banyak partikel debu, masyarakat dapat lebih mudah mengalami iritasi pada hidung dan tenggorokan.
Karena itu, kondisi kelembapan udara menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan ketika membahas kualitas udara selama musim kemarau.
4. Sinar Matahari
Cuaca cerah dengan paparan sinar matahari yang kuat juga dapat memengaruhi komposisi udara.
Sinar matahari berperan dalam sejumlah reaksi kimia di atmosfer. Salah satunya adalah pembentukan ozon di permukaan tanah atau ground-level ozone yang berbeda dengan lapisan ozon di atmosfer bagian atas.
Ozon permukaan dapat terbentuk melalui reaksi antara sejumlah polutan, terutama ketika tersedia energi dari sinar matahari. Kondisi panas dan cerah dapat mendukung berlangsungnya proses tersebut.
Karena itu, kualitas udara tidak hanya dipengaruhi oleh banyaknya debu yang terlihat secara kasatmata.
Ada pula polutan yang terbentuk melalui reaksi kimia di atmosfer dan tidak selalu dapat dilihat langsung.
Baca Juga: Eza Gionino Disebut sebagai Aktor EG dalam Laporan Dugaan Penganiayaan Elryan Carlen
5. Kebakaran Hutan
Faktor lain yang perlu diperhatikan selama musim kemarau adalah meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
Kondisi vegetasi yang lebih kering membuat api lebih mudah muncul dan menyebar ketika terjadi kebakaran.
Asap dari kebakaran dapat membawa berbagai partikel dan zat pencemar ke udara.
Dampaknya tidak selalu terbatas pada wilayah yang mengalami kebakaran. Asap dapat terbawa angin menuju wilayah lain sehingga kualitas udara di kawasan yang cukup jauh dari sumber kebakaran juga dapat terdampak.
Ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi dalam skala besar, konsentrasi partikel di udara dapat meningkat secara signifikan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang perlu diwaspadai terutama pada puncak musim kemarau.
6. Aktivitas Kendaraan
Selain faktor cuaca dan kondisi lingkungan, aktivitas manusia juga berperan dalam menentukan kualitas udara.
Kendaraan bermotor menghasilkan emisi yang dapat menjadi sumber pencemar udara.
Di wilayah dengan kepadatan lalu lintas tinggi, emisi kendaraan dapat menjadi salah satu sumber polusi yang perlu diperhatikan.
Pada musim kemarau, ketika hujan jarang turun, polutan dari berbagai aktivitas dapat bertahan lebih lama di lingkungan.
Kondisi tersebut membuat kombinasi antara cuaca kering dan tingginya aktivitas manusia berpotensi memperburuk kualitas udara.
7. Aktivitas Pembakaran Terbuka
Pembakaran sampah maupun kegiatan pembakaran lainnya juga dapat menghasilkan asap dan partikel pencemar.
Pada musim kemarau, kondisi lingkungan yang kering membuat aktivitas pembakaran perlu dilakukan dengan lebih hati-hati.
Selain menghasilkan asap, api yang tidak terkendali berpotensi menyebar ke area sekitarnya.
Karena itu, masyarakat sebaiknya menghindari pembakaran terbuka yang tidak diperlukan, terutama ketika kondisi angin cukup kencang dan lingkungan sekitar sangat kering.
