Danantara Mulai Unjuk Bukti, Efisiensi dan Laba BUMN Meningkat

Jumat 14 Agu 2026, 19:45 WIB
Logo Danantara. (Sumber: Ist.)
Logo Danantara. (Sumber: Ist.)

POSKOTA.CO.ID — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mulai menunjukkan hasil dari upaya reformasi dan perampingan badan usaha milik negara (BUMN). Efisiensi yang dilakukan disebut telah menghemat biaya overhead lebih dari Rp50 triliun, sementara sejumlah BUMN mencatatkan pertumbuhan laba signifikan.

Capaian tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD RI 2026 di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026.

Prabowo memberikan apresiasi khusus kepada pimpinan Danantara beserta seluruh jajaran yang terlibat dalam proses pembenahan BUMN.

“Jadi, saudara-saudara sekalian, untuk itu, saya memberi penghargaan khusus kepada pimpinan dari Danantara dengan seluruh timnya, seluruh jaringannya,” kata Prabowo.

Baca Juga: Satu Tahun Danantara Indonesia: Memperkuat Fondasi untuk Masa Depan Generasi Indonesia

Menurut Prabowo, langkah perampingan jumlah BUMN yang dilakukan Danantara telah memberikan dampak terhadap efisiensi biaya. Penghematan tersebut mencapai lebih dari Rp50 triliun.

Efisiensi berasal dari berbagai komponen biaya yang selama ini dikeluarkan perusahaan pelat merah, mulai dari gaji direksi dan komisaris, sewa gedung, sewa kendaraan hingga perjalanan dinas.

Capaian tersebut sekaligus menjadi salah satu indikator awal untuk menjawab keraguan yang muncul sejak Danantara dibentuk.

Sebelumnya, publik sempat mempertanyakan apakah konsolidasi aset negara di bawah Danantara benar-benar dapat membuat kekayaan negara dikelola secara lebih produktif. Kini, sejumlah indikator kinerja mulai menunjukkan perubahan.

Baca Juga: Mendagri Saksikan Penandatanganan Kerja Sama Danantara dan Pemprov DKI Jakarta Percepat Pembangunan PSEL

Laba Sejumlah BUMN Tumbuh Signifikan

Selain efisiensi, kinerja sejumlah BUMN juga menunjukkan pertumbuhan laba yang cukup signifikan.

Dalam pidatonya, Prabowo menyampaikan sejumlah perusahaan negara yang mencatatkan pertumbuhan laba, di antaranya PT Timah, Pupuk Indonesia, Semen Indonesia, Pegadaian, Pertamina, Pelindo, BTN, dan Bank Mandiri.

Pertumbuhan laba tersebut masing-masing tercatat, sebagai berikut:

  • PT Timah: 804,7 persen
  • Pupuk Indonesia: 253 persen
  • Semen Indonesia: 196,5 persen
  • Pegadaian: 84,6 persen
  • Pertamina: 80 persen
  • Pelindo: 60,4 persen
  • BTN: 40,8 persen
  • Bank Mandiri: 24,3 persen

Baca Juga: Menkeu Purbaya Datangi dan Bawa Tim IT ke Kantor Danantara untuk Cek Sistem Coretax yang Dikeluhkan Error

Selain perusahaan yang mencatat pertumbuhan laba, terdapat pula BUMN yang sebelumnya menghadapi tekanan kinerja tetapi kini mulai menunjukkan perbaikan.

Krakatau Steel dan Kimia Farma, misalnya, disebut berhasil berbalik dari kondisi merugi menjadi membukukan laba. Meski periode pencatatan kinerja keduanya berbeda, perubahan tersebut menunjukkan adanya tren perbaikan.

Danantara Dinilai Mengubah Pesimisme Menjadi Optimisme

Perubahan kinerja BUMN turut dinilai mulai mengubah persepsi publik terhadap Danantara.

Pengamat komunikasi Hendri Satrio menilai Danantara memiliki peran penting, bukan hanya dalam mendorong perbaikan kinerja BUMN, tetapi juga dalam membangun kembali optimisme terhadap pengelolaan aset negara.

Baca Juga: Optimalisasi Aset BUMN, BP BUMN Tinjau BSI Tower dan Bahas Sinergi dengan Danareksa

“Jadi memang sudah jelas Danantara mengambil peranan sangat penting dan utama dalam pembangunan Indonesia di masa mendatang,” kata Hendri Satrio atau Hensat, Jumat.

Menurut Hensat, peran strategis Danantara berpotensi terus berlanjut karena pengelolaan aset negara akan menjadi salah satu faktor penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia.

“Keberadaan Danantara tidak lagi hanya dinilai dari aspek pembentukan lembaga, tetapi mulai dilihat dari kemampuan menghasilkan efisiensi, meningkatkan profitabilitas, serta mengoptimalkan aset negara,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VI DPR dari Fraksi Gerindra Andre Rosiade juga mengapresiasi kinerja Danantara dalam melakukan reformasi BUMN.

Baca Juga: Obrolan Warteg: BUMN Bukan Tempat Bancakan

Menurut Andre, perbaikan tersebut merupakan bagian dari kemitraan antara Komisi VI DPR dan Danantara dalam membenahi perusahaan negara.

“Itu menunjukkan bahwa kemitraan Komisi VI DPR RI dengan Danantara Aset Manajemen sukses. Sukses bagaimana kita bermitra, saling dukung untuk membenahi BUMN-BUMN yang ada,” ujar Andre.

Ia menjelaskan, salah satu agenda penting dalam pembenahan tersebut adalah streamlining atau perampingan BUMN agar struktur perusahaan menjadi lebih efektif dan efisien.

Andre menilai, elain merampingkan jumlah perusahaan, pembenahan juga diarahkan untuk meningkatkan kinerja dan memperkuat tata kelola.

“Perubahan tersebut tidak terlepas dari revisi Undang-Undang BUMN yang menjadi landasan bagi pembentukan dan penyempurnaan peran Danantara,” ucapnya.

Aset Negara Tak Lagi Sekadar Dimiliki

Konsep utama yang dibawa dalam reformasi BUMN adalah perubahan cara melihat aset negara.

Aset negara yang berada di BUMN tidak cukup hanya tercatat sebagai kekayaan yang dimiliki. Aset tersebut harus dikelola secara produktif sehingga mampu menghasilkan return dan menciptakan nilai tambah bagi negara.

Karena itu, BUMN didorong untuk lebih fokus pada bisnis inti dan mengurangi aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah.

Struktur organisasi, proses bisnis, serta komponen biaya juga ditata ulang agar perusahaan menjadi lebih ramping dan disiplin.

Di sisi lain, sinergi antar-BUMN diperkuat untuk menciptakan economies of scale dan economies of scope. Dengan pendekatan tersebut, perusahaan negara diharapkan dapat memanfaatkan sumber daya secara lebih optimal.

Anggota DPR dari Fraksi Golkar Bambang Soesatyo menilai reformasi BUMN merupakan langkah penting untuk memastikan perusahaan negara benar-benar memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional.

“Reformasi BUMN merupakan langkah yang berani dan penting karena terlalu banyak perusahaan negara yang tidak produktif justru dapat membebani keuangan negara,” kata Bambang.

Menurut dia, BUMN ke depan harus diisi perusahaan yang sehat, profesional dan produktif serta mampu menciptakan nilai tambah.

Namun, Bambang mengingatkan agar proses restrukturisasi tetap dilakukan secara transparan, akuntabel dan profesional.

Hal tersebut penting agar tujuan reformasi tidak berhenti pada pengurangan jumlah perusahaan atau biaya, tetapi benar-benar menghasilkan peningkatan kontribusi BUMN terhadap perekonomian dan penerimaan negara.

Perubahan yang terjadi di tubuh BUMN pada akhirnya bukan sekadar restrukturisasi administratif. Lebih jauh, langkah tersebut menunjukkan adanya perubahan paradigma dalam mengelola kekayaan negara.

Ukuran keberhasilan tidak lagi semata-mata dilihat dari seberapa besar aset yang dimiliki negara, tetapi dari seberapa produktif aset tersebut dikelola.

Dalam kerangka tersebut, Danantara memiliki posisi strategis untuk memastikan aset negara dapat menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar.

Sejumlah indikator seperti penghematan biaya, peningkatan laba, perbaikan perusahaan yang sebelumnya merugi, hingga penguatan sinergi antar-BUMN menjadi bagian dari proses tersebut.

Dengan capaian awal itu, pertanyaan mengenai apa perbedaan Danantara dengan pola pengelolaan BUMN sebelumnya mulai mendapatkan jawaban.

BUMN didorong menjadi lebih fokus, biaya ditekan, aset dioptimalkan dan profitabilitas ditingkatkan.

Namun, keberhasilan jangka panjang tetap akan ditentukan oleh konsistensi reformasi, kualitas tata kelola, transparansi serta kemampuan Danantara memastikan aset negara benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Semangat tersebut sejalan dengan pesan Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD RI 2026.

Dengan demikian, transformasi BUMN di bawah Danantara bukan hanya tentang merampingkan perusahaan atau mengejar kenaikan laba.

Lebih besar dari itu, reformasi diarahkan untuk mengubah aset negara menjadi sumber nilai ekonomi yang dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi Indonesia.

“81 tahun yang lalu para pendiri bangsa [menetapkan] sebuah cita-cita, Indonesia yang berdaulat adil dan makmur. Indonesia yang kekayaannya harus dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat dan tidak boleh hanya dinikmati [oleh] segelintir orang,” ujar Prabowo.


Berita Terkait


News Update