BANDUNG, POSKOTA.CO.ID - Kemerdekaan Indonesia tak cukup dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan. Lebih dari itu, kemerdekaan juga berarti kemampuan bangsa untuk berdiri di atas kaki sendiri, termasuk dalam memenuhi kebutuhan pangan.
Di tengah momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, regenerasi petani menjadi salah satu pekerjaan rumah penting yang perlu segera mendapat perhatian. Sebab, peningkatan produksi pangan tidak akan berarti banyak apabila Indonesia kehilangan generasi yang mampu mengelola sektor pertanian pada masa mendatang.
Perhimpunan Insinyur Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) menilai regenerasi petani harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam strategi ketahanan pangan nasional.
Guru Besar Program Studi Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Ketua Umum Badan Pimpinan Pusat Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (BPP PISPI), Achmad Tjachja Nugraha, mengatakan persoalan pertanian Indonesia tidak cukup hanya dilihat dari capaian produksi.
Baca Juga: Seorang Petani di Lembang KBB Terbawa Arus Banjir Bandang, Polisi Terjunkan Anjing Pelacak
Menurutnya, peningkatan produksi padi memang menjadi capaian penting dan sejalan dengan target pemerintah. Namun, ada persoalan yang lebih besar untuk dipikirkan, yakni siapa yang akan mengelola lahan pertanian dan memproduksi pangan dalam 10 hingga 20 tahun mendatang.
"Regenerasi petani bukan sekadar persoalan siapa yang akan bekerja di sawah. Ini menyangkut masa depan ketahanan pangan Indonesia. Kalau hari ini kita tidak menyiapkan generasi muda untuk masuk ke sektor pertanian, maka 20 tahun mendatang kita akan menghadapi persoalan yang jauh lebih besar," kata Achmad kepada Poskota, Rabu, 12 Agustus 2026.
Regenerasi Petani jadi Tantangan Ketahanan Pangan
Achmad menyebut momentum kemerdekaan seharusnya menjadi pengingat bahwa kedaulatan pangan merupakan bagian dari makna kemerdekaan.
Menurut dia, bangsa yang masih bergantung pada pasokan pangan dari luar negeri akan sulit disebut benar-benar merdeka dalam urusan pangan.
Baca Juga: Gagal Panen di Bekasi: Petani Rugi Jutaan, Gabah Tak Laku
Di sisi lain, mulai muncul fenomena anak muda yang meninggalkan pekerjaan di perkotaan dan memilih terjun ke sektor pertanian. Kondisi tersebut menunjukkan adanya perubahan pandangan terhadap profesi petani.
Dukungan teknologi, mekanisasi, pemanfaatan data hingga pemasaran digital membuat sektor pertanian mulai dipandang sebagai bidang usaha yang memiliki peluang ekonomi.
Namun, perubahan tersebut dinilai belum cukup untuk menyelesaikan persoalan regenerasi petani.
Akses lahan, permodalan, teknologi, pendidikan dan kepastian pasar masih menjadi tantangan bagi anak muda yang ingin menjadikan pertanian sebagai profesi sekaligus bisnis.
"Anak muda boleh memiliki semangat dan pengetahuan, tetapi kalau tidak memiliki akses terhadap lahan, modal, teknologi dan prospek ekonomi pasar, semangat tersebut akan sulit berkembang menjadi usaha pertanian yang berkelanjutan," tuturnya.
Achmad menilai sektor pertanian perlu dikembangkan dengan pendekatan kewirausahaan atau agripreneurship.
Generasi muda, kata dia, tidak cukup hanya memiliki kemampuan budidaya. Mereka juga harus dibekali kemampuan mengelola usaha, mengakses pembiayaan, membaca pasar, melakukan pemasaran hingga mengolah hasil pertanian agar menghasilkan nilai tambah.
"Pendidikan tidak hanya mengajarkan bagaimana menanam, tetapi juga bagaimana mengelola usaha pertanian. Anak muda harus memahami produksi, teknologi, pembiayaan, pemasaran sampai bagaimana menciptakan nilai tambah," ungkapnya.
Karena itu, perguruan tinggi dan lembaga pendidikan dinilai memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi baru petani dan pelaku agribisnis.
Tren menurunnya minat generasi muda untuk menempuh pendidikan di bidang pertanian menjadi pekerjaan rumah bagi dunia pendidikan.
Achmad juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah dalam membangun infrastruktur pertanian dan ekosistem agribisnis yang mampu menghubungkan dunia pendidikan dengan kebutuhan industri pertanian.
"Supporting pemerintah terhadap penguatan infrastruktur pertanian bagi dunia pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi, termasuk membuat ekosistem pertanian agribisnis yang linkage," tegasnya.
Menurut Achmad, perkembangan teknologi justru dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk menarik minat generasi muda ke sektor pertanian.
Mekanisasi pertanian, pemanfaatan data, pemantauan lahan berbasis teknologi hingga pemasaran digital dapat membuat kegiatan pertanian lebih efisien sekaligus membuka berbagai model bisnis baru.
Namun, teknologi harus dibarengi dengan kepastian pasar.
"Kita tidak boleh hanya mendorong anak muda untuk berproduksi. Kita juga harus memastikan ada ekosistem pasar. Petani muda harus tahu kepada siapa produknya akan dijual, berapa nilai tambah yang bisa diperoleh, dan bagaimana mereka bisa memiliki posisi tawar," ujarnya.
Petani Muda Tentukan Ketahanan Pangan 2045
Achmad menegaskan persoalan regenerasi petani pada akhirnya akan menentukan masa depan ketahanan pangan Indonesia.
Indonesia tidak hanya membutuhkan lahan, benih, pupuk, teknologi dan modal, tetapi juga sumber daya manusia yang mampu mengelola seluruh rantai produksi pangan.
"Nantinya ketahanan pangan pada akhirnya jadi persoalan manusia. Kita membutuhkan lahan, teknologi dan modal, tetapi semua itu membutuhkan generasi yang mampu mengelolanya. Karena itu, regenerasi petani harus menjadi bagian dari strategi ketahanan pangan nasional," ujarnya.
Ia memprediksi 20 tahun ke depan menjadi periode penting bagi sektor pertanian Indonesia.
Generasi muda yang mulai masuk ke sektor pertanian saat ini akan menjadi bagian dari pelaku utama produksi pangan ketika Indonesia memasuki usia 100 tahun kemerdekaan pada 2045.
"Karena itu, kemampuan negara menarik, mendidik dan mempertahankan generasi muda di sektor pertanian akan ikut menentukan kuat atau tidaknya ketahanan pangan nasional," tuturnya.
Mengisi kemerdekaan, pada akhirnya bukan hanya soal mengibarkan Merah Putih. Lebih dari itu, Indonesia perlu memastikan setiap generasi tetap memiliki kemampuan untuk menghasilkan pangan bagi bangsanya sendiri.
